“The only thing necessary for the triumph of evil is for good men to do nothing.” (Edmund Burke)

Cukup lumrah ketika kita membaca surat kabar dan menemui berita perbuatan immoral, seperti kasus korupsi, pelecehan seksual, pencurian, pembunuhan, serta perbuatan kriminal lainnya. Jika dilihat dengan lebih mendalam lagi, pembaca mungkin dapat menyimpulkan bahwa sering kali perbuatan seperti itu sudah diketahui oleh pihak lain tetapi pihak lain tersebut tidak complain atau mengadukan pada yang berwajib. Bahkan, tidak jarang mereka lalu ikut terjun untuk melakukan hal yang sama menurut Dr. Beni Bevly (2012). Gejala sosial apakah ini? Untuk menyelami lebih jauh mungkin ada baiknya kita melihat salah satu gejala sosial yang disebut bystander effect.

Bystander effect atau yang juga dikenal dengan sebutan genovese syndrome, fenomena tersebut populer ketika munculnya sebuah kasus pembunuhan terhadap Kitty Genovese tahun 1964. Pada saat kasus itu terjadi, dikabarkan bahwa kejadian tersebut disaksikan oleh 38 orang. Tetapi, tidak satu pun di antara mereka yang menolong korban atau melaporkan pada pihak berwajib. Ternyata, banyak kasus yang serupa dan semestinya tidak terjadi tetapi dibiarkan oleh individu-individu yang hadir. Gejala sosial seperti inilah yang disebut bystandaer effect (Darley dan Latane, 1968)2.

Dalam kasus bystander effect, probabilitas dari bantuan sering berlawanan dengan jumlah orang yang hadir, lewat, dan saksi mata atau bystander. Dengan kata lain, semakin banyak orang yang berada di sekitar tempat kejadian, semakin sedikit kemungkinan orang-orang yang berada di situ akan membantu (Darley dan Latane, 1968)1. Mengapa demikian? Secara umum, hal ini terjadi karena dengan meningkatnya jumlah bystander, maka bystander akan semakin tidak memperhatikan situasi, tidak melihat kejadian tersebut sebagai suatu permasalahan, dan akan semakin tidak mengambil tanggung jawab untuk bertindak (Fischer et al, 2011).

Di Indonesia, agaknya kehidupan sosial, terutama di kota besar seperti Jakarta, Bandung, dll., sudah sedemikian padat dan bisingnya sehingga menenggelamkan hati nurani banyak orang seperti yang dikatakan oleh Dr. Beni Bevly (2012). Kondisi ini menyebabkan banyak orang yang hadir di tempat ketika ada sekelompok atau seorang berbuat kejahatan tidak mendapat perhatian lagi, atau hal ini telah menjadi suatu norma baru bahwa berbuat curang dan jahat, seperti korupsi dan menipu, adalah perbuatan yang wajar dan pintar. Jika ada pihak lain yang tidak setuju, ia akan mendiamkan saja.

Pertanyaan selanjutnya, mengapa seorang individu dalam berkelompok sering tidak membantu korban dari suatu peristiwa dan mendiamkan perbuatan immoral dari pihak lain? Pada umumnya, terdapat tiga proses utama bagi seorang untuk bertindak dalam situasi tersebut. Pertama, noticing atau memperhatikan. Dalam suatu penelitian, partisipan ditempatkan dalam suatu ruangan dan kemudian dipompakan asap ke dalam ruangan tersebut. Partisipan yang bekerja sendirian bisa segera melihat adanya asap yang masuk, yaitu sekitar 5 detik, sedangkan yang bekerja berkelompok membutuhkan waktu yang lebih lama, yaitu 20 detik untuk menyadari akan ada asap yang masuk ke ruangan (Darley dan Latane, 1968)1.

Hal ini terjadi karena dalam berkelompok orang cenderung tidak melihat kondisi sekitarnya. Banyak yang beranggapan adalah tidak sopan untuk melihat atau memelototi orang lain di tempat umum. Sebaliknya, ketika mereka hanya sendiri, mereka lebih bebas atau lebih sadar akan keadaan lingkungan mereka dan karena itu pula, mereka bisa memperhatikan apabila orang lain melakukan perbuatan immoral dan ada yang membutuhkan bantuan (Levine dan Crowther, 2008).

Kedua, interpretation atau menginterpretasikan. Ketika suatu situasi telah menarik perhatian, untuk seorang bystander bertindak, mereka harus menginterpretasikan situasi atau kejadian itu sebagai emergency terlebih dahulu. Sesuai dengan prinsip dasar dari pengaruh sosial, bystander memonitor reaksi-reaksi dari orang dalam situasi emergency untuk melihat apakah orang lain berpikir bahwa penting bagi mereka untuk turun tangan. Akan tetapi, pada saat itu, semua orang melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan bystander tersebut, maka semua orang menyimpulkan bahwa tidak bertindaknya orang lain sebagai tidak diperlukannya bantuan.

Ketiga, taking responsibility atau bertanggung jawab. Halangan utama yang lain untuk seorang bertindak membantu orang lain disebut diffusion of responsibility (Darley dan Latane, 1968)1. Hal ini terjadi ketika semua berasumsi bahwa akan ada orang lain yang akan bertindak untuk membantu dan setiap orang merasa lebih sedikit tanggung jawabnya daripada orang lain sehingga mereka berpikir tidak perlu melakukan sesuatu. Mereka juga bisa berasumsi mungkin ada orang lain yang lebih qualified untuk membantu sehingga mereka melihat bantuannya tidak diperlukan. Mereka juga dapat beranggapan bahwa bantuannya tidak diinginkan, atau bisa memperburuk situasi sehingga bisa menyebabkan mereka diminta pertanggungjawaban.

Dengan melihat proses ini, maka mestinya perbuatan immoral bisa dicegah dengan meng-encourage orang di sekitarnya untuk terlibat dalam menantang pelaku atau menolong korbannya. Agaknya inisiatif pencegahan ini harus datang dari level pimpinan. Di negara maju, umumnya, pemimpin menyediakan complaint system yang memungkinkan bystander memiliki pilihan untuk bertindak. Hal yang sangat membantu untuk meng-encourage bystander untuk melakukan complain adalah pemimpin harus bisa meyakinkan bahwa mereka tidak menyimpan record dan complain mereka diberlakukan total confidential. Mereka juga memberikan berbagai training seperti training anti-korupsi, safety, sexual harassment, dan lain-lain.

 Daftar Pustaka

Fischer, P., Krueger, J.I., Greitemeyer, T., Vogrincic, C., Kastenmüller, A., Frey, D., Heene, M., Wicher,M., & Kainbacher, M. (2011). The bystander-effect: A meta-analytic review on bystanderintervention in dangerous and non-dangerous emergencies. Psychological Bulletin, 1-21.

 Latane, B., & Darley, J. M. (1968). Bystander intervention in emergencies: Diffusion of responsibility. Journal of Personality and Social Psychology, 8, 377-383. [exemplar 1]

 Latane, B., & Darley, J. M. (1968). Group inhibition of bystander intervention in emergencies. Journal of  Personality and Social Psychology, 10, 215-221. [exemplar 2]

 Levine, M., & Crowther, S. (2008). The responsive bystander: How social group membership and groupsize can encourage as well as inhibit bystander intervention. Journal of Personality and Social Psychology, 95 (6), 1429-1439.

 Belvy, B. (2012). Corporate Social Responsibility. Jakarta: San Francisco School of Jakarta.