Oleh Fransiscus Ian Soerja Prasetyo

Melihat jauh ke belakang, di tahun 1960, pendapatan per kapita masyarakat Indonesia dapat disetarakan dengan Korea Selatan. Kini setelah 69 tahun berselang, pendapatan mereka telah mencapai USD 15.000 atau 7 kali lebih besar dibandingkan Indonesia. Income rakyat China yang pada dasawarsa 1990 jauh di bawah Indonesia, kini menjadi 1,5 kali lebih besar. Begitu pula dengan Malaysia, Malaysia yang 45 tahun lalu masih banyak berguru kepada Indonesia, kini telah melampaui Indonesia. 

Mengapa Indonesia sangat sulit untuk maju? Keterbelakangan Indonesia tentu disebabkan oleh mental loser atau pecundang masyarakatnya. Mental pecundang bagaikan virus penyakit yang masuk ke tubuh masyarakat Indonesia, yang secara tak sadar menjalar dan melumpuhkan seluruh sistem tubuh, yaitu negara Indonesia sendiri. Harus diakui bahwa saat ini mayoritas rakyat Indonesia memiliki mental pecundang. Melihat perkembangan yang ada sekarang, bangsa Indonesia semakin berkembang menjadi bangsa yang bermental kuli. Bangsa Indonesia hanya bisa menjadi babu dan kuli untuk bekerja di negeri orang. Sedangkan di negerinya sendiri, pemerintahnya justru sibuk menjual aset-aset negara dan menyerahkan banyak kekayaan alam untuk dieksploitasi bangsa asing. 

Sejatinya, sebelum kedatangan Belanda, telah muncul bibit-bibit pmental pecundang dalam diri orang-orang Indonesia. Hal ini disebabkan karena sentralisasi kekuasaan yang memasung semua bentuk kreativitas masyarakat. Di beberapa kerajaan berbasis agraris, terutama di Pulau Jawa, hal ini berlangsung cukup lama. Mulai dari kerajaan Tarumanegara, Sunda, Singosari, Majapahit, hingga Mataram, kehidupan rakyat hanya bertumpu pada satu titik, yakni kerajaan. Kerajaan tidak pernah memberikan ruang yang cukup bagi berkembangnya potensi masyarakat dan justru kemajuan rakyat dianggap sebagai ancaman bagi kekuasaan keraton. Dalam kehidupan dan budaya kerajaan, politik hanya bersumber pada satu dinasti, perdagangan tidak boleh diserahkan ke pihak swasta, kepemilikan tanah secara individu tidak diperbolehkan, dan pengembangan seni budaya haruslah sesuai dengan kepentingan kerajaan. 

Pada pertengahan abad ke-19, politik tanam paksa diterapkan di seluruh Pulau Jawa. Rakyat Jawa dipaksa menyerahkan tanah-tanah garapannya untuk ditanami komoditas tertentu yang sesuai dengan permintaan Belanda. Keadaan seperti ini melemahkan ekonomi masyarakat hingga terjadinya kelaparan di berbagai daerah di Pulau Jawa. Belanda juga memindahkan paksa ribuan tenaga kerja dari Pulau Jawa ke perkebunan Sumatera Timur dan Suriname, untuk dipekerjakan sebagai kuli kontrak yang diperlakukan dengan sangat kejam sehingga banyak diantara mereka yang meninggal karena fisik yang terlalu letih dan gizi yang tidak tercukupi. Dalam kondisi tertekan seperti itu, tidak banyak dilakukan perlawanan yang berarti oleh masyarakat Jawa, tidak seperti halnya di Aceh dan Minangkabau yang masyarakatnya banyak melakukan pemberontakan sehingga kolonisasi Belanda di Pulau Jawa berkembang sangat pesat. Untuk memperlancar keinginan Belanda, suap menyuap yang masif terjadi antara keluarga kerajaan dan pemerintah kolonial. Oligarki kekuasaan antara kerajaan dan Belanda telah memuluskan kebijakan eksploitasi yang menyengsarakan masyarakat.

Ketika VOC (organisasi perdagangan Belanda) mulai menguasai perdagangan di Indoesia, banyak masyarakat Indonesia yang dipekerjakan di sana. Namun, budaya yang berkembang dalam VOC bukanlah budaya yang baik karena di sana berkembang subur korupsi yang akhirnya juga menyebabkan runtuhnya VOC. Masyarakat Indonesia yang bekerja di sana secara tidak langsung juga kemudian belajar mengenai memperoleh keuntungan dengan korupsi. Masyarakat yang telah lama dikondisikan untuk patuh kepada raja, menerima begitu saja semua kebijakan yang merugikan mereka. Situasi seperti ini menjadikan masyarakat skeptis terhadap keadaan yang ada sehingga muncul sikap pasrah pada nasib. Situasi ini juga mengakibatkan masyarakat kehilangan rasa percaya diri sebagai bangsa yang besar seperti ketika zaman Sriwijaya dan Majapahit sehingga hal-hal yang berbau mistis dan magis berkembang luas, seperti misalnya kepercayaan akan datangnya dewa penolong atau satria piningit yang segera melepaskan mereka dari penderitaan. Lebih jauh lagi, kebijakan pelarangan perdagangan swasta oleh pihak kerajaan, mengakibatkan tidak munculnya jiwa kewirausahaan pada masyarakat Jawa sehingga bekerja sebagai abdi dalem atau pegawai negeri dirasa lebih terhormat dibanding menjadi pengusaha. 

Berkembangnya mental pecundang tersebut berlangsung berabad-abad lamanya sehingga telah menjadi ketidaksadaran kolektif yang berkembang sebagian besar masyarakat Jawa dan Sunda. Ketidaksadaran kolektif menurut Jung (dalam Feist dan Feist, 2010) merupakan gudang bekas-bekas memori laten yang diwariskan dari masa lampau atau leluhur seseorang. Ketidaksadaran kolektif hampir sepenuhnya terlepas dari segala segi pribadi individu. Semua manusia memiliki keidaksadaran kolektif yang hampir sama. Jung menghubungkan sifat universal ketidaksadaran kolektif itu dengan stuktur otak pada semua ras manusia dan disebabkan oleh evolusi umum. Ketidaksadaran kolektif merupakan pondasi ras yang diwariskan dalam keseluruhan struktur kepribadian. Apa  yang dipelajari seseorang sebagai hasil dari pengalaman secara substansial dipengaruhi oleh ketidaksadaran kolektif yang melakukan peran mengarahkan atau menyeleksi tingkah laku sejak  awal kehidupan.

Dengan demikian, jika ketidaksadaran kolektif yang dibentuk dari masa lampau bangsa Indonesia seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, perilaku masa kini masyrakat Indonesia yang terjadi tentu tidak jauh beda dengan apa yang terjadi pada leluhurnya yang penuh pandangan pesimis, korupsi, kolusi, nepotisme, mudah dimanfaatkan oleh asing, dan bermental pecundang sehingga bangsa Indonesia sendiri pun akan sulit untuk menjadi bangsa yang maju jika masyarakatnya tidak berniat belajar untuk membangun mental yang tangguh sama seperti ketika Indonesia masih dijuluki sebagai Nusantara pada waktu kekuasaan Sriwijaya dan Majapahit. Itulah tugas masyarakat Indonesia sekarang, membangun dan memunculkan kembali mental sebagai bangsa yang hebat sama seperti saat waktu bangsa Indonesia masih dijuluki Nusantara.

Daftar Pustaka

Feist, J. & Feist, G. J. (2010). Teori Kepribadian. Jakarta: Salemba Humanika.