Penulis : Sesilia Sophia Kadita

Semenjak menyebarnya COVID-19, pemerintah memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan mewajibkan kantor-kantor untuk melakukan kerja dari rumah atau work from home (WFH) terhadap karyawannya. Namun saat ini sudah ada beberapa perusahaan yang kembali beraktivitas seperti semula dengan mematuhi protokol kesehatan. Di antara kamu apakah masih ada yang WFH hingga saat ini?

Kali ini saya akan bercerita mengenai pengalaman selama WFH sebagai Content Writer Intern di Werkudara Institute. Werkudara Institute sendiri berlokasi di Surakarta, Jawa Tengah sedangkan saya saat ini berdomisili di Bogor, Jawa Barat. Semua aktivitas kerja dilakukan melalui internet, mulai dari chatting dengan WhatsApp, rapat dengan Google Meet, atau pengerjaan tugas dengan Google Docs.

Saya merasa beruntung bisa hidup di zaman yang sudah maju teknologinya. Kemajuan teknologi memungkinkan orang-orang untuk bisa terhubung meski terhalang jarak. Begitu banyak pula aktivitas kerja yang terbantu oleh teknologi, salah satunya dalam hal pekerjaan, dan menjadi penopang utama saat WFH. Berikut adalah apa yang saya rasakan selama menjalani WFH.

Jam Kerja

Sumber: Dokumentasi Pribadi - Rapat dari rumah

Jam kerja yang fleksibel bisa dibilang adalah salah satu keuntungan dari WFH. Karena kita bekerja di rumah, otomatis kita juga mampu mengatur jam kerja sendiri. Kita juga terkesan lebih “bebas” untuk mengatur kapan harus fokus pada pekerjaan dan kapan bisa istirahat. Kita tidak perlu memaksa diri untuk fokus pada jam kerja kantor yang telah ditentukan. Terkadang kita memiliki jam-jam tertentu di mana otak bekerja secara maksimal.

Saya pribadi merasa lebih fokus bekerja pada sore hari menjelang malam, mulai dari jam tiga sore di mana keadaan rumah terasa sepi. Maka dari itu, kebanyakan pekerjaan saya kerjakan pada sore hari. Memang tidak seperti jam kerja kantor 8.00-17.00, tetapi saya ingin bekerja di mana saya mood untuk bekerja.

Namun ternyata jam kerja yang fleksibel juga bisa dilihat sebagai suatu kelemahan. Kita lebih fleksibel untuk melakukan pekerjaan kantor sekaligus pekerjaan rumah, tetapi akibatnya tidak ada waktu pasti berapa jam kita harus bekerja dalam sehari. Misalnya, jika di kantor kita bekerja selama delapan jam dari jam 8.00-17.00, maka di rumah kita bisa saja kerja lebih sedikit jam atau bahkan lebih banyak.

Terkadang saya merasa bekerja dengan sistem WFH seperti tidak ada batasan antara pekerjaan kantor dengan waktu pribadi. Misalnya, di saat kita merasa bahwa pekerjaan sudah selesai dan ini adalah waktunya untuk istirahat, ternyata kita masih perlu merevisi pekerjaan dan harus dilakukan saat itu juga. Sedangkan kalau di kantor pekerjaan ada yang kurang bisa beralasan bahwa sudah waktunya untuk pulang dan bisa dilanjutkan esok hari.

Biaya

Masalah biaya biasanya menjadi salah satu hal yang sensitif ketika kita memilih tempat kerja karena akan menentukan berapa pengeluaran untuk biaya kost atau pun transportasi. Dengan adanya WFH kita menjadi lebih berhemat dalam hal biaya transportasi. Kita tidak perlu mengeluarkan biaya lebih untuk bensin atau naik kendaraan umum.

Sumber: pivotpointsecurity.com

WFH memang bagi sebagian orang menguntungkan soal biaya, tapi apakah ada di antara kamu yang mendapatkan tunjangan transportasi dari kantornya dan dipotong karena WFH? Bisa jadi WFH justru merugikan kamu dalam hal biaya.

Biaya transportasi berkurang, tetapi biaya untuk jaringan internet meningkat. Orang-orang di rumah melakukan WFH secara bersamaan, belum lagi ditambah anggota keluarga yang masih bersekolah dan melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Hal ini membuat adanya lonjakan pada biaya internet dan biaya listrik sekaligus karena semakin banyak perangkat listrik yang terhubung dengan internet.

Kebiasaan

Salah satu hal yang paling saya sukai ketika WFH adalah tidak perlu bangun pagi dan no morning routines atau kebiasaan di pagi hari sebelum berangkat kerja. Ketika bekerja di kantor, kita perlu bangun pagi, mandi, memilih pakaian, dan berias diri. Belum lagi kita  perlu menyediakan waktu untuk perjalanan menuju kantor.

Sumber: Liputan6.com

Saya pernah memiliki pengalaman magang di salah satu perusahaan elektronik. Kebetulan saya memilih untuk pulang pergi Bogor-Jakarta Utara. Kantor masuk pukul 9.00 tetapi pukul lima saya sudah bangun dan berangkat pukul enam kurang karena perjalanan yang jauh dan menaiki kendaraan umum.

Empat jam waktu yang saya butuhkan sebelum masuk kerja. Sedangkan bila WFH saya bisa menggunakan empat jam tersebut untuk lebih banyak beristirahat. Meski terkesan kita boleh kerja kapan saja dan istirahat kapan saja, tetapi kita harus pandai menata jadwal supaya target dan deadline tetap terpenuhi tepat waktu.

Ternyata WFH ini juga bisa membuat kita memiliki kebiasaan yang kurang baik bagi kesehatan. Salah satunya karena kita bebas bangun siang, maka waktu tidur pun semakin mundur. Kita berpikir bahwa tidak akan telat masuk kantor, akibatnya terlalu sering begadang. Jam kerja tidak teratur, maka jam makan pun juga tidak tepat. Kalau kita tidak mengatur waktu dengan baik, salah-salah akan berimbas pada kesehatan.

Waktu Luang

Di kantor jika pekerjaan sedikit dan bisa diselesaikan dalam waktu dekat kita tetap harus stay sampai jam kerja berakhir. Sedangkan ketika WFH ketika pekerjaan kita telah selesai, kita bisa mengerjakan hal lain. Ketika kita mendapatkan waktu lebih karena WFH, kita akan berpikir aktivitas apa lagi yang bisa dilakukan. Maka saat WFH ini banyak bermunculan hobi baru.

Hobi baru berkebun
Hobi baru membuat kerajinan tangan

Jika kita jenuh dengan pekerjaan, kita dapat meluangkan waktu melakukan aktivitas lainnya sebagai selingan. Saya sendiri jadi memiliki hobi baru yaitu berkebun, memasak, dan membuat kerajinan tangan. Namun jangan sampai kita terlena melakukan hal lain hingga lupa pada pekerjaan utama. Meski ada aktivitas baru untuk mengisi waktu luang, tidak dapat dipungkiri WFH ini juga menimbulkan kebosanan. Tidak lain adalah karena harus terus berada di rumah sebab masih diberlakukan PSBB dan banyak tempat yang masih tutup.

Bagi sebagian orang yang senang beraktivitas di rumah pasti merasa diuntungkan dengan WFH. Sedangkan orang-orang yang senang akan mobilitas tinggi pasti merasa terbebani dengan WFH. Entah kita merasa diuntungkan atau dirugikan, yang utama adalah tetap menjaga kebersihan dan mengikuti protokol kesehatan.

Hingga saat artikel ini ditulis (20 Agustus 2020) terdapat 2.266 kasus positif baru. Jangan karena pandemi ini sudah berjalan lama, kita jadi merasa bahwa COVID-19 sudah hilang dari Indonesia. Pada kenyataannya angka kenaikan yang terkonfirmasi masih sangat tinggi. Maka dari itu, entah kita memilih untuk tetap WFH atau masuk kantor, jangan lupa tetap untuk menjaga jarak, pakai masker, dan cuci tangan dengan sabun, ya!