Penulis : Sesilia Sophia Kadita

Apakah kamu merasa jenuh dengan pekerjaanmu sekarang? Apakah kamu merasa lelah yang luar biasa secara mental sehingga tidak bisa menyelesaikan pekerjaan? Hati-hati, bisa jadi kamu mengalami burnout syndrome!

Burnout syndrome adalah suatu fenomena kelelahan yang diakibatkan dari stres kronis yang berlangsung lama di tempat kerja dan belum dapat dikelola. Stres di tempat kerja yang dimaksud adalah stres karena pekerjaan, rekan kerja, maupun lingkungan kerja. Kondisi ini ditandai dengan kelelahan secara fisik dan emosional. Ketika kondisi ini terus dibiarkan, kamu akan kehilangan minat pada pekerjaan sehingga tidak lagi menemukan motivasi untuk melanjutkan kerja.

Berdasarkan laman dari halosehat.com penyebab burnout syndrome antara lain:

1.   Tidak mampu mengontrol pekerjaan

2.   Ekspektasi dan kenyataan pekerjaan tidak sama

3.   Dinamika kerja yang buruk seperti mendapat perlakuan bully

4.   Jenis pekerjaan yang monoton

5.   Tidak ada batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi/sosial

 

Gejala Burnout Syndrome

(Sumber: docwirenews.com)

Lalu, bagaimana kita tahu jika kita mengalami burnout syndrome atau tidak? Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) karakteristik atau gejala utama burnout syndrome adalah:

1.   Perasaan kelelahan atau kehabisan energi

Kamu bisa jadi merasa kelelahan secara fisik bahkan mental, merasa kehabisan energi hingga seperti tidak mampu lagi melakukan pekerjaan. Kamu stuck dengan masalah kerja yang itu-itu saja dan tidak menemukan penyelesaiannya.

2.   Secara mental merasa ada jarak dengan pekerjaan, atau perasaan negatif terhadap pekerjaan

Orang dengan burnout syndrome biasanya memiliki jarak antara dirinya dengan pekerjaan, sehingga mengasingkan diri dari segala yang berhubungan dengan pekerjaan. Terdapat perasaan bahwa semua pekerjaan ini membuatnya stres dan tidak dapat terselesaikan bagaimanapun caranya. Kamu bisa saja melihat sudah tidak ada lagi sisi positif dari pekerjaan dan segalanya terlihat negatif.

3.   Menurunnya efektivitas kerja

Kamu lelah dan merasa asing dengan pekerjaan, akhirnya produktivitas kerja pun menurun. Kamu sulit untuk berkonsentrasi dan tidak terarah.

Pada 28 Mei 2019 WHO mengklasifikasikan burnout syndrome sebagai fenomena pekerjaan dan bukan sebagai kondisi medis. Ini berarti burnout syndrome bukan termasuk dalam klasifikasi penyakit, namun faktor yang mempengaruhi kesehatan baik secara fisik maupun mental. Kamu bisa saja menyebut kelelahan luar biasa yang kamu alami dalam bekerja sebagai burnout, namun tidak dengan kondisi medis seperti depresi atau gangguan kecemasan yang butuh diagnosis medis.

Pengaruhnya terhadap kondisi fisik yaitu seperti merasa lelah meski pekerjaan tidak sebanyak biasanya, sakit kepala, nyeri otot, nafsu makan menurun, gangguan pencernaan, dan gangguan tidur. Sedangkan pengaruhnya terhadap kondisi mental adalah perasaan rendah diri, merasa gagal, kesepian, kehilangan motivasi, dan perasaan negatif terhadap pekerjaan.

Cara Mengatasi

(Sumber: rencanamu.id)

Bagaimana cara mengatasinya jika kita ternyata mengalami burnout syndrome? Ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan:

1.   Komunikasikan dengan atasan atau rekan kerja

Jika kamu merasa tidak mampu menyelesaikan masalah sendiri, maka ceritakanlah dan minta bantuan orang lain. Bercerita bisa melegakan stres. Komunikasikan pula masalah yang kamu rasakan pada pihak yang berkaitan, misalnya stres karena beban pekerjaan yang terlalu banyak, maka diskusikan dengan atasan dan minta keringanan.

2.   Bekerja di lokasi berbeda

Cobalah untuk bekerja di lokasi yang berbeda. Saat di kantor coba kerja di meja kerja lain, atau bila memungkinkan kamu bisa bekerja di cafe terdekat. Saat WFH kamu bisa berganti-ganti lokasi seperti di kamar, ruang tamu, atau teras rumah.

3.   Melakukan relaksasi

Kamu bisa melakukan relaksasi untuk menenangkan pikiran dengan cara meditasi atau yoga.

4.   Aktivitas fisik

Jika kamu stress, maka lepaskan saja. Salah satu caranya adalah dengan melakukan aktivitas fisik seperti olahraga misalnya bela diri, sepak bola, atau badminton. Kamu tidak suka olahraga? Bisa dengan melakukan aktivitas fisik seperti paintball atau bowling.

5.   Tidur cukup dan perbaiki gizi

Tidur cukup delapan jam sehari itu penting. Seimbangkan dengan makan makanan bergizi. Kurangi konsumsi kafein dan rokok karena memaksa tubuh untuk tetap terjaga walau seharusnya beristirahat.

6.   Menjauh sejenak

Gunakan jatah cuti atau waktu liburmu untuk benar-benar menjauh sejenak dari pekerjaan. Pada dasarnya kamu membutuhkan liburan dan hiburan.

7.   Berhenti

Berhenti dari pekerjaan adalah cara terakhir yang bisa yang kamu lakukan jika benar-benar tidak sanggup menghadapi pekerjaan yang sekarang Kamu berhak memilih atas hidupmu.

8. Minta bantuan profesional

Jika kamu merasa burnout ini sudah mempengaruhi kesehatan fisik/mental dan mengganggu, segera hubungi dokter, psikolog, atau psikiater.

Burnout Syndrome ketika Work from Home?

(Sumber: talenta.co)

Burnout syndrome memang banyak dialami oleh pekerja kantoran. Namun bagi kamu yang melakukan work from home (WFH), jangan anggap kamu akan terhindar dari burnout syndrome. Menurut Harvard Business Review yang dikutip glints.com, burnout dapat terjadi saat WFH karena:

1. Tempat kerja dan beristirahat sama (di rumah) sehingga tidak merasakan waktu berjalan karena fokus bekerja

2. Perasaan harus memberi lebih dan menunjukkan produktivitas meski di rumah sehingga waktu istirahat terganggu

3. Tidak ada work-life-balance

 

Mencegah dari pada Mengobati

(Sumber: tirto.id)

Lebih baik mencegah dari pada mengobati, begitu pula dengan burnout syndrome ini. Cara-cara yang bisa kamu lakukan untuk mencegahnya adalah:

1.   Atur jadwal

Atur jadwal sebaik mungkin supaya jelas kapan waktu untuk bekerja dan untuk urusan pribadi.

2.   Manfaatkan waktu kosong/cuti

Cuti adalah privilege yang sangat berhak kamu ambil. Jika tidak memiliki jatah cuti, pergunakan waktu luang di akhir minggu untuk kehidupan pribadi dan lepas dari pekerjaan.

3.   Melakukan aktivitas favorit dan self reward

Lakukan aktivitas favorit di waktu luang atau di sela-sela waktu kerja untuk mengembalikan semangat dan energimu. Berikan juga dirimu self reward seperti makan makanan enak, membeli bunga, atau pergi ke tempat wisata sebagai hadiah atas kerja kerasmu.

4.   Hubungi teman/kerabat di luar kantor

Hubungilah teman-teman dari luar kantor untuk bertukar pikiran dan mendapatkan persepsi baru.

5.   Konsumsi makanan bergizi

Makanan yang dikonsumsi mencerminkan kesehatan tubuhmu. Konsumsi makanan bergizi seperti sayur dan buah serta vitamin dan suplemen bila perlu.

Ayo kenali apakah kehidupan kerjamu sudah sehat dan seimbang. Burnout syndrome adalah keadaan serius yang mempengaruhi kesehatan baik fisik maupun mental, dan kamu tidak boleh meremehkannya. Ingat bahwa burnout berawal karena stres yang menumpuk, maka segera cari solusi jika kamu merasakan stress.Lakukan apapun yang bisa membuat kamu mengisi ulang tenaga dan cara mempertahankan work-life-balance.

Burnout adalah sebuah istilah yang bisa kamu sebut ketika kamu mengalami kelelahan fisik dan emosional karena kelelahan dalam bekerja. Namun bila burnout ini dialami terus menerus dan dalam jangka waktu yang lama hingga mengganggu kesehatan, segera periksakan ke dokter atau psikolog untuk diagnosis lebih lanjut. 

 

Cohut, Maria. 2 Agustus 2019. Burnout: Facing the Damage of ‘Chronic Workplace Stress’. https://www.medicalnewstoday.com/articles/325943 (Diakses pada 31 Agustus 2020 pukul 21.02)

Fadli, Rizal. 16 April 2020. Cegah Burnout saat WFH dengan 6 Cara Ini. https://www.halodoc.com/artikel/cegah-burnout-saat-wfh-dengan-cara-ini (Diakses pada 31 Agustus 2020 pukul 20.58)

Ajeng. 5 Mei 2020. Mengenal Fenomena Burnout dan Efeknya Bagi Kesehatan Kaum Milenial.  https://www.gooddoctor.co.id/tips-kesehatan/mental/fenomena-burnout/ (Diakses pada 1 September 2020 pukul 11.14)

Hidayati, Khairina. 13 April 2020. Merasa Burn Out saat WFH? Pelajari di Sini, Yuk!”. https://glints.com/id/lowongan/burn-out-saat-wfh/#.X0zSHtwzbIU (Diakses pada 31 Agustus 2020 pukul 21.20)

Suggett, Paul. 4 Januari 2020. 10 Ways to Deal with Work Burnout. https://www.thebalancecareers.com/how-to-deal-with-work-burnout-4142144 (Diakses pada 31 Agustus 2020 pukul 21.15)

Rosyid, Hasyanto F. Burnout: Penghambat Produktivitas yang Perlu Dicermati. Buletin Psikologi 4.1 (1996): 19-25.

Widyawinata, Rena. 1 Agustus 2020. Stress dan Muak dengan Pekerjaan? Waspada Burnout Syndrome. https://hellosehat.com/hidup-sehat/psikologi/stres-pekerjaan-burnout-syndrome/#gref (Diakses pada 31 Agustus 2020 pukul 17.57)

World Health Organization. 28 Mei 2019. Burn-out “occupational phenomenon”: International Classification of Diseases. https://www.who.int/mental_health/evidence/burn-out/en/ (Diakses pada 31 Agustus 2020 pukul 18.59)