Penulis : Sesilia Sophia Kadita

Semua orang pasti pernah mengalami stres. Namun, ada kalanya orang awam menyebut stres yang dialaminya sebagai depresi, sedangkan seorang yang depresi bisa jadi tidak menyadari dirinya mengidap gangguan mental. Sebenarnya apa perbedaan antara stres dan depresi? Yuk, kita lihat penjelasannya!

Stres

(Sumber: nytimes.com)

Stres adalah suatu kondisi di mana kamu merasa kewalahan akan tekanan yang tidak terkendali. Stres merupakan bentuk respon dari tubuh terhadap tekanan dari peristiwa kehidupan yang dialami.

Berikut adalah cara unik menghilangkan stres yang sudah terbukti melalui penelitian:

1.   Senyum palsu (dalam Psychological Science 2012)

Tersenyum dengan memasang duchenne smile alias senyum lebar yang melibatkan otot wajah sekitar mata dapat mengubah suasana hati menjadi bahagia.

2.   Berenang atau berendam air hangat (dalam International Journal of Management Stress Swedia)

Berendam di air hangat memicu respon relaksasi tubuh yang membantu menekan hormon penyebab stress. Bisa juga disertai dengan aromaterapi seperti lavender yang terbukti secara konsisten mengurangi tingkat stres.

3.    Mengunyah permen karet (oleh Andrew Scholey, Ph.D. 2008)

Seseorang yang secara teratur mengunyah permen karet menunjukkan peningkatan kewaspadaan, mengurangi stres, dan kemajuan multi-tasking.

4.   Beribadah (dalam buku The SuperStress Solution oleh Dr. Roberta Lee)

Orang-orang yang lebih banyak menggunakan agama atau spiritualitas mereka untuk menghadapi kehidupan lebih mampu mengatasi stres, mengalami peningkatan kesehatan dan kesejahteraan pribadi karena adanya larangan dalam agama yang menjaga tubuh tetap sehat, misalnya larangan konsumsi alkohol.

5.   Tarik napas dalam

Menarik napas dalam-dalam terbukti menurunkan kadar kortisol (kadar hormon stres dalam tubuh) sehingga membantu mengurangi stres dan kecemasan. Caranya, tutup mata dan lakukan pernapasan dengan skala 2-1-4, misalnya 2 detik tarik nafas, 1 detik tahan, dan 4 detik lepaskan napas perlahan dan diulangi paling tidak lima menit.

6.   Tertawa

Tertawa dapat mengurangi kadar kortisol dan sebagai gantinya melepaskan hormon endorfin alias hormon bahagia. Kamu bisa melakukannya dengan cara menonton serial sitkom, menonton video-video lucu, atau bercanda.

Depresi

(Gambaran seseorang yang terlihat baik-baik saja namun ternyata butuh pertolongan. Sumber: poster lagu I’m Fine - BTS)

Depresi berdasarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah gangguan mental yang ditandai dengan kesedihan terus menerus dan kurangnya minat pada kegiatan yang biasanya dilakukan dengan senang hati. Dampak depresi akan berlangsung lama dan berulang bahkan mempengaruhi kehidupan seseorang secara dramatis.

Depresi berkontribusi besar dalam jumlah penderita gangguan mental di dunia. Data dari WHO menunjukkan bahwa paling tidak ada 264 juta orang di dunia yang mengalami depresi. Depresi yang paling parah dapat membuat penderitanya menyakiti diri sendiri. Hampir 800 ribu orang meninggal karena bunuh diri setiap tahunnya dan menjadi penyebab kematian terbesar kedua pada usia 15-29 tahun.

Depresi dapat menyerang siapa saja, namun data menunjukkan bahwa wanita 50% beresiko lebih tinggi dari pada pria. Seseorang dinyatakan depresi jika sudah 2 minggu merasa sedih, putus harapan, atau tidak berharga. Maka dari itu, jika kamu merasa sedih dalam waktu yang panjang segera mencari bantuan profesional karena depresi merupakan penyakit yang butuh diagnosa dan pengobatan.

 

Stress vs. Depresi

(Sumber: huffpost.com)

Perbedaan paling mendasar antara stres dan depresi adalah reaksi atau dampaknya pada tubuh. Stres merupakan hal wajar, reaksi alami tubuh sebagai perlindungan diri dengan memproduksi hormon dan zat kimia seperti adrenalin, kortisol, dan norepinefrin. Seseorang yang stres tidak melulu merasa patah semangat, namun justru ada yang dapat meningkatkan semangat. Hal ini memungkinkan karena setiap orang memiliki mekanisme yang berbeda-beda dalam mengelola stres.

Depresi adalah suatu kondisi medis, penyakit atau gangguan mental yang perlu penangan ahli yaitu psikiater. Tidak seperti stres, depresi bukanlah keadaan yang wajar. Depresi berdampak buruk pada suasana hati, perasaan, stamina, selera makan, pola tidur, dan tingkat konsentrasi. Maka dari itu orang-orang dengan depresi akan sulit menjalani kesehariannya seperti makan, bekerja, atau bersosialisasi.

 

Ada satu akun Youtube bernama Clean Avengers yaitu agen pembersih rumah yang ada di Korea Selatan. Dari video-video yang ada memperlihatkan bahwa banyak sekali “trash house” alias rumah dengan tumpukan sampah di dalamnya karena pemiliknya yang mengalami depresi. Masing-masing orang kesulitan dalam menjalani kesehariannya seperti kehilangan tenaga untuk bergerak dan bersosialisasi, sehingga lebih banyak berdiam diri di rumah, memesan makanan cepat saji, dan sampahnya tertumpuk di dalam rumah entah berapa lama.

(Keadaan salah satu rumah penderita depresi. Sumber: akun Youtube CleanAvangers)

Berdasarkan gejalanya, berikut perbedaan stress dan depresi:

Gejala stres: merasa kewalahan, gangguan konsentrasi, mudah marah, mudah tersinggung, gelisah, dan sulit tidur.

Gejala depresi: kehilangan percaya diri, kecemasan berlebih, tidak stabil secara emosi, putus asa, selalu merasa tidak bertenaga, mengalami nyeri tanpa penyebab jelas, gangguan makan meningkat drastis atau menurun drastis, gangguan tidur jauh lebih lama atau tidak bisa tidur, dan adanya keinginan untuk menyakiti diri sendiri.

Stres dan depresi tidak sama, begitu pula dengan penangannya. Stres pada umumnya tidak perlu penangan dokter dan obat-obatan, sedangkan depresi perlu penangan psikiater untuk diagnosa lebih lanjut dan pemberian obat/terapi yang sesuai.

 

Pengalaman Hiperventilasi karena Stres

(Sumber: wonderopolis.org)

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.Kali ini saya ingin menceritakan pengalaman saya terkait stres. Suatu ketika saat kuliah saya merasa stres karena banyak hal yang terus menumpuk. Saat pulang kuliah dengan perasaan lelah dan melihat seisi rumah berantakan serta ribut, tanpa saya sadari tiba-tiba napas saya mencepat.

Semakin mencepat dan dengan pola napas pendek-pendek. Karenanya, mulut dan hidung saya terasa sangat kering dan dingin. Refleks saya mengambil selimut di atas kasur untuk menutupi mulut dan hidung guna membuatnya hangat. Kejadian ini berlangsung sekitar 10-20 menit dan seingat saya sudah terjadi sebanyak dua kali hingga hari ini. Saya tidak menyangka tubuh saya bisa bereaksi seperti itu.

Setelah melakukan riset dan berkonsultasi dengan dokter, ternyata apa yang saya alami disebut dengan hiperventilasi atau napas berlebihan. Salah satu penyebab hiperventilasi adalah stres. Belakangan saya mengetahui bahwa cara meredakannya adalah dengan bernapas dalam kantong kertas atau tangan menutup hidung.

Semakin kita dewasa, semakin banyak pula hal di dunia yang kita tahu. Sebanyak itu pula hal yang bisa menjadi tekanan dalam hidup. Mungkin itu sebabnya banyak orang yang mengalami stres dan depresi terutama di usia 15-29 tahun, usia di mana mengalami transisi menjadi orang dewasa.

Pengalaman ini membuat saya sadar bahwa stres bisa datang dari mana saja dan jangan dibiarkan menumpuk atau tertahan lama. Stres dapat memicu depresi, namun tidak semua depresi diawali dengan stres. Maka dari itu, bila kamu merasakan stres sekecil apa pun, segera cari cara untuk melepaskannya. Bila kamu mulai merasa stres sudah mengganggu kesehatan fisik atau mentalmu, jangan ragu untuk berkonsultasi ke dokter atau psikiater.

 

 

 

Sumber:

Alodokter. 14 Juni 2020. Depresi. https://www.alodokter.com/depresi (Diakses pada 3 September 2020 pukul 1.34)

Anindyaputri, Irene. 23 Juni 2020. Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya!. https://hellosehat.com/hidup-sehat/psikologi/kenali-perbedaan-stres-dan-depresi-sebelum-terlambat/ (Diakses pada 3 September 2020 pukul 2.30)

Clean Avengers, Youtube. 10 Juli 2020. My Life was Ruined by My Ex-boyfriend (ft.Interview). https://www.youtube.com/watch?v=2FSsY6fJX3M (Diakses pada 3 September 2020 pukul 2.13)

Ikhnasia, Annisa Amalia. 23 Oktober 2019. Sering Dianggap Sama, Ini Perbedaan Stres dan Depresi. https://www.sehatq.com/artikel/sering-dianggap-sama-ini-perbedaan-stres-dan-depresi (Diakses pada 3 September 2020 pukul 2.28)

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. http://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/stress/yuk-mengenal-apa-itu-stres (Diakses pada 3 September 2020 pukul 1.27)

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 8 Juni 2018. Pengertian Kesehatan Mental. http://promkes.kemkes.go.id/pengertian-kesehatan-mental (Diakses pada 3 September 2020 pukul 1.25)

Marcus, Marina, etc. 2012. Depression: A Global Public Health. World Health Organization.

Mental Health Foundation. Stress. https://www.mentalhealth.org.uk/a-to-z/s/stress (Diakses pada 3 September 2020 pukul 0.30)

Puji, Aprinda. 10 Agustus 2020. 13 Hal Unik dan Sederhana untuk Menghilangkan Stres. Hallosehat.com. https://hellosehat.com/hidup-sehat/tips-sehat/cara-unik-menghilangkan-stres/ (Diakses pada 3 September 2020 pukul 0.03)

World Health Organization. 30 Januari 2020. Depression. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/depression (Diakses pada 3 September 2020 pukul 0.45)