Penulis : Diavena Alusia Tamba

Seperti yang Sahabat Werkudara ketahui bahwa hingga kini wabah virus corona (COVID-19) masih menjadi salah satu masalah yang cukup serius mengingat angka kasus yang semakin meningkat setiap harinya. Walau begitu, bukan berarti masyarakat bisa santai sejenak karena mau bagaimanapun aktivitas masyarakat, seperti bekerja dan sekolah harus tetap berjalan demi kelangsungan hidup negara ini. Maka dari itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pun telah menyusun skenario bahwa kegiatan belajar-mengajar bagi seluruh siswa di Indonesia dilakukan dengan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) hingga akhir tahun 2020.

 

Sayangnya tidak semua skenario yang direncanakan akan berjalan dengan mulus. Beberapa hambatan ditemui oleh guru dan siswa, khususnya guru pendamping siswa difabel dan siswa difabel itu sendiri. Di artikel kali ini, kita akan membahas hambatan apa saja yang dialami oleh teman-teman difabel di bidang pendidikan. Ayo simak artikelnya di bawah ini!

Sumber gambar: Shutterstock

Kesulitan yang Dialami

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia memang telah memperpanjang masa pembelajaran jarak jauh (PJJ) hingga akhir tahun 2020. Namun sayangnya beberapa pihak, seperti orang tua, pendamping, guru siswa difabel serta siswa difabel sendiri merasa kesulitan jika kebijakan PJJ ini diwujudkan. Masalahnya PJJ belum dapat diakses dengan baik oleh pihak-pihak tersebut.

Menurut hasil survei yang dilakukan oleh Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) di Universitas Brawijaya dan Australia-Indonesia Disability Research and Advocacy Network (AIDRAN), mayoritas guru (62,7%) mengumpulkan bahan ajar dari situs web umum, sedangkan 32,9% guru sudah menggunakan fasilitas e-learning yang disediakan sekolah. Selain itu, survei menemukan bahwa 56,9% guru menggunakan Microsoft Word yang dapat dengan mudah diakses oleh siswa, sedangkan 39,2% guru menggunakan dokumen pdf, video, dan rekaman suara. Dokumen pdf sendiri tidak dapat dibaca oleh pembaca layar sehingga tidak dapat diakses oleh tunanetra dan begitu pula dengan rekaman video. Selain itu, rekaman suara tidak dapat diakses oleh tunarungu. Jadi meskipun ada teknologi yang praktis dan tersedianya aksesibilitas, beberapa guru masih menggunakan platform yang tidak dapat diakses.

Dilansir dari Republika, Asisten Deputi Perlindungan Anak dalam Situasi Darurat dan Pornografi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA), Ciput Eka Purwianti mengatakan bahwa tidak semua sekolah luar biasa memiliki sarana yang cukup untuk melakukan pembelajaran secara daring atau jarak jauh sehingga beberapa sekolah meniadakan proses pembelajaran.

Selain para guru, kesulitan dalam masa PJJ ini juga dirasakan oleh siswa difabel karena siswa difabel membutuhkan waktu yang lebih untuk menyesuaikan diri dengan pembelajaran saat tidak berada di dalam kelas atau tanpa interaksi yang erat dengan guru mereka. Mereka membutuhkan pendampingan yang lebih dan sayangnya hal itu tidak bisa didapatkan melalui pembelajaran secara daring.

Pendampingan dari guru dan orang tua sendiri merupakan hal yang paling penting dan wajib dilakukan selama proses belajar-mengajar bagi anak berkebutuhan khusus. Hal ini dikarenakan cara kerja otak mereka yang berbeda dengan anak lainnya sehingga ketika mereka mempelajari suatu informasi yang baru maka mereka perlu dibimbing dan diarahkan. Jadi ketika sistem pembelajaran konvensional beralih menjadi sistem pembelajaran online, mereka akan butuh waktu lama untuk beradaptasi jika tidak didampingi dan menyulitkan mereka untuk mengikuti materi dari guru.

Akses platform pembelajaran secara daring juga menjadi kendala yang serius bagi siswa difabel karena tidak semua anak difabel bisa mengaksesnya. Banyak orang tua tidak mampu secara finansial untuk menyediakan laptop, smartphone, atau akses internet yang dapat diandalkan kepada anak-anak mereka, dan seringkali tidak terbiasa dengan teknologi sehingga kesulitan untuk mendukung pengajaran di rumah.

Dilansir dari Tempo, Susanti Mayangsari, pendiri Komunitas Kesetaraan Bagi Anak Tuli atau Setuli dalam diskusi bulanan via Zoom Institut Inklusif Indonesia pada Minggu, 5 Juli 2020 menjelaskan bahwa kenyataannya beragam media pembelajaran yang adaptif bagi siswa difabel belum tersedia secara merata, pemahaman orang tua akan kebutuhan anak mereka juga belum memadai, orang tua tidak punya banyak waktu karena bekerja, dan lain-lain. Semua kondisi tersebut membuat sulitnya membangun kondisi belajar yang kondusif bagi anak berkebutuhan khusus.

Upaya yang Dapat Dilakukan

Pemerintah dan lembaga pendidikan sebenarnya memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa siswa difabel dapat berpartisipasi secara setara dalam dunia pendidikan. Sayangnya pemerintah sendiri masih kurang dalam hal kebijakan, pengetahuan, dan infrastruktur untuk menjamin akses bagi siswa difabel.

Survei yang dilakukan oleh PSLD dan AIDRAN juga melihat bahwa hampir 99,2% guru mengatakan bahwa mereka mengalami tantangan serius dalam mengajar jarak jauh dengan sekitar 26,2% mengatakan hal ini disebabkan kurangnya infrastruktur dan alat yang memadai, 47,7% mengatakan bahwa kurangnya pelatihan tentang bagaimana memfasilitasi dan mengakomodasi kebutuhan belajar siswa difabel, dan sekitar 20,5% mengatakan bahwa mereka butuh pelatihan tentang cara menggunakan teknologi dalam pengajaran.

Perpindahan sistem belajar-mengajar yang tadinya konvensional menjadi online dan jarak jauh memang sedikit banyak memaksa guru dan siswa untuk menyesuaikan diri dengan teknologi yang dapat meningkatkan aksesibilitas. Namun dikarenakan infrastruktur dan pelatihan yang kurang memadai, kegiatan pembelajaran tersebut menjadi terhambat. Maka dari itu, pemerintah perlu menyediakan alat dan akses internet yang cukup stabil serta memberikan pelatihan kepada guru-guru dari siswa difabel tersebut.

Selain itu, pemerintah juga dirasa perlu membentuk suatu kebijakan khusus terkait sistem pembelajaran bagi siswa difabel jika ingin para siswa melakukan pembelajaran dari rumah. Pemerintah tidak dapat menyamaratakan seluruh siswa di Indonesia dengan berpikir bahwa siswa difabel juga dapat mengikuti pembelajaran online atau jarak jauh seperti siswa lainnya, apalagi guru yang mengajar masih kesulitan untuk melakukan pendampingan dan siswa difabel juga masih ada yang tidak bisa mengakses platform pembelajaran.

Dilansir dari Tempo, Direktur Yayasan Wahana Inklusi Indonesia, Tolhas Damanik berpendapat bahwa memang perlu adanya pelatihan bagi orang tua dan guru dalam menggunakan media daring guna mendukung kegiatan belajar-mengajar dari rumah. Pelatihan ini penting dilakukan karena tidak semua guru di sekolah inklusif dapat mengaplikasikan secara tepat sarana belajar-mengajar yang adaptif bagi siswa difabel.

Selain itu, perlu diperhatikan pula penyediaan alat atau media yang digunakan guru dan siswa difabel dalam proses pembelajaran online, seperti ponsel dan laptop apakah sudah mendukung dan adaptif bagi peserta didik dan guru, serta jaringan internet yang digunakan untuk mengakses bahan ajar atau materi belajar siswa apakah sudah tersedia di daerah tempat para siswa difabel berada dan cukup stabil untuk mendukung proses pembelajaran tersebut.

Dengan bekal pelatihan yang cukup bagi para guru, alat atau media pembelajaran yang memadai, serta jaringan internet yang dapat diakses dengan mudah oleh guru dan siswa difabel diharapkan dapat membuat teman-teman yang difabel ikut merasakan pendidikan yang setara seperti siswa lainnya. Teman-teman yang difabel juga jadi tidak perlu khawatir akan tertinggal di bidang pendidikan jika pemerintah mau memberikan perhatian lebih bagi mereka yang berkebutuhan khusus.

 

 

Sumber:

1.   Indira Rezkisari. 3 Juli 2020. Anak Disabilitas Hadapi Kerentanan Ganda Saat COVID-19. Diakses pada tanggal 8 September 2020, dari https://republika.co.id/berita/qcvx4h328/anak-disabilitas-hadapi-kerentanan-ganda-saat-covid19

2.   Mata Politik. 6 Agustus 2020. Bisakah COVID-19 Buka Jalan Pendidikan Inklusif Untuk Disabilitas. Diakses pada tanggal 8 September 2020, dari https://www.matamatapolitik.com/bisakah-covid-19-buka-jalan-pendidikan-inklusif-untuk-disabilitas-analisis/

3.   Cheta Nilawaty. 22 Mei 2020. Kesulitan yang Dialami Siswa Difabel Selama Belajar dari Rumah. Diakses pada tanggal 8 September 2020, dari https://difabel.tempo.co/read/1345147/kesulitan-yang-dialami-siswa-difabel-selama-belajar-dari-rumah/full&view=ok

4.   Cheta Nilawaty. 6 Juli 2020. Orang tua Siswa Difabel Kesulitan Dengan Pembelajaran Jarak Jauh. Diakses pada tanggal 8 September 2020, dari https://difabel.tempo.co/read/1361676/orang-tua-siswa-difabel-kesulitan-dengan-pembelajaran-jarak-jauh/full&view=ok

 

5.   CNN Indonesia. 24 April 2020. Kemendikbud Buat Skenario Belajar Di Rumah Sampai Akhir 2020. Diakses pada tanggal 8 September 2020, dari https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200424114337-20-496861/kemendikbud-buat-skenario-belajar-di-rumah-sampai-akhir-2020