Penulis : Sesilia Sophia Kadita

 

Pembangunan di bidang pendidikan di Indonesia memberikan efek pemberantasan aksara dengan hasil yang signifikan. Pembangunan ini secara spesifik tercatat sejak pencanangan SD Inpres (Instruksi Presiden) pada 1973. Berdasarkan Statistik 70 Tahun Indonesia Merdeka 2015, 39,1 % jumlah buta aksara di 1971 menurun drastis di 2014 menjadi 4,4%.

Keberhasilan pemerintah dalam memberantas buta aksara melalui pendidikan sayangnya tidak sejajar dengan keberhasilan budaya membaca. Padahal budaya membaca membantu menaikkan tingkat literasi suatu negara. Berdasarkan survei oleh Programme for International Student Assessment (PISA) 2015, tingkat literasi Indonesia berada di urutan 64 dari 72 negara.

Pada penelitian The World’s Literate Nations (WMLN) 2016, Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara. WMLN mengurutkan negara-negara bukan dari kemampuan membaca penduduknya, melainkan perilaku dan sumber pendukung. Peringkat ini didasarkan pada indikator kesehatan literasi suatu negara, yaitu perpustakaan, surat kabar, input dan output pendidikan, dan ketersediaan komputer.

Penyebab Minat baca Indonesia Rendah

Dari data-data tersebut dapat terlihat bahwa Indonesia berhasil membuat masyarakatnya dapat membaca, tetapi belum berhasil membentuk budaya membaca. Lalu, mengapa Indonesia begitu sulit memiliki budaya membaca?

1.   Kurangnya Jumlah Perpustakaan dan Pasokan Buku

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak 2016 telah meluncurkan program Gerakan Literasi Nasional (GLN) melalui sekolah, keluarga, dan masyarakat. Namun sayangnya perpustakaan di Indonesia belum memadai. Kurangnya jumlah perpustakaan juga diikuti dengan kurangnya jumlah pasokan buku.Paling tidak Indonesia membutuhkan 767.951 perpustakaan, namun data pada 2016 menunjukkan baru tersedia 20% yaitu 154.359 perpustakaan.

(Sumber: Indeks Aktivitas Literasi Membaca)

Akses perpustakaan juga lebih banyak berada di pusat kota sehingga sulit dijangkau oleh masyarakat daerah terpencil. Padahal akses yang mudah menjadi salah satu faktor penting yang memungkinkan budaya membaca untuk tumbuh.

2.   Tidak Ada Budaya Membaca Sejak Dini

 

Peran orang tua tentu sangat penting terhadap anak-anaknya. Karena anak tumbuh dengan meniru perilaku manusia. Jika orang tua tidak memiliki minat baca, begitu pun pada anaknya. Terlebih lagi karena adanya gadget, orang tua bukannya membiasakan anak membaca buku justru membiasakan anak menggunakan gadget. Berdasarkan data dari SellCell, anak-anak usia 1-2 tahun bahkan sudah menggunakan gadget.

(Sumber: sellcell.com)

3.   Buku yang Tersedia di Perpustakaan Sekolah Kurang Menarik

(Sumber: tirto.id)

Berapa kali selama sekolah kamu masuk ke dalam perpustakaan? Sering kali sekolah memiliki perpustakaan, namun buku-buku yang tersedia tidak sesuai dengan minat siswa. Kebanyakan buku yang ada berkisar pada buku mata pelajaran. Hal ini memunculkan anggapan bahwa perpustakaan adalah tempat yang membosankan. Padahal menumbuhkan budaya baca bisa dimulai dengan tema apa yang digemari siswa.

Solusi Meningkatkan Minat Baca

Lalu bagaimana caranya supaya budaya baca orang Indonesia meningkat?

 

1.   Temukan Tema Buku Sesuai Minat

(Sumber: nasional.kompas.com)

Biasanya kita malas membaca buku karena temanya tidak sesuai, terlalu banyak tulisan, dan visualisasi yang kurang menarik. Padahal sekarang sudah banyak buku-buku yang hadir dengan tampilan yang lebih menarik. Kamu bisa mencoba mulai dengan buku-buku dengan jumlah gambar yang lebih banyak atau sampul depan yang eye-catching.

Seperti pada ungkapan populer, dari mata turun ke hati. Siapa tahu setelah kamu tertarik melihat bukunya, lama-kelamaan akan tertarik juga untuk membacanya.

 

2.   Meningkatkan Fasilitas Perpustakaan

(Sumber: idntimes.com)

Perpustakaan terkenal dengan tempat yang membosankan karena desainnya yang kuno dan tidak variatif dalam penempatan rak buku maupun kursi. Saat ini sudah banyak contoh perpustakaan yang nyaman, desain kekinian, dan dengan warna-warna yang cerah. Banyak perpustakaan sudah menyediakan ruangan baca yang nyaman, peletakkan buku yang menarik, hingga terintegrasi dengan komputer untuk mencari letak buku.

3.   Mendirikan Perpustakaan di Daerah

 

Salah satu rendahnya minat baca adalah karena akses pada sarana membaca yang kurang. Contohnya, banyak anak-anak di daerah yang senang membaca tetapi rumahnya jauh dari perpustakaan di kota atau buku yang kurang variatif. Maka dari itu perlu banyak sekali pihak yang membangun perpustakaan mini untuk menjangkau daerah terpencil.

(Sumber: dokumentasi Werkudara Institute)

Werkudara Institute memiliki program Nusantara Membaca sebagai gerakan literasi untuk meningkatkan budaya membaca. Gerakan ini muncul sebagai bentuk keprihatinan Werkudara Foundation terhadap kondisi anak-anak yang kehilangan minat untuk membaca. Padahal melalui buku anak-anak dapat memperluas cakrawala pengetahuannya.

Saat ini Werkudara Foundation sedang mengumpulkan buku melalui donasi dari Sahabat Werkudara. Buku-buku ini nantinya akan disalurkan ke taman bacaan atau sekolah di pedalaman Indonesia. Werkudara Foundation juga memiliki mimpi untuk mendirikan taman bacaan sendiri. Kamu sangat bisa, loh ikut ambil bagian dalam program ini. Jika kamu memiliki buku-buku yang sudah tidak terpakai, dari pada tertumpuk dan terbengkalai, lebih baik ikut berdonasi buku melalui program Nusantara Membaca.

Untuk melakukan donasi buku dan informasi lengkapnya, kamu bisa cek link berikut: klik di sini.

Ayo ikut berkontribusi meningkatkan minat baca Sahabat Kecil Werkudara!

 

 

Sumber:

Badan Pusat Statistik. 2015. Statistik 70 Tahun Indonesia Merdeka. Katalog BPS: 1104007.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2019. Indeks Aktivitas Literasi Membaca 34 Provinsi. Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan: Badan Penelitian dan Pengembangan.

Central Connecticut State University. 2016. World’s Most Literate Nations Ranked. https://webcapp.ccsu.edu/?news=1767&data (Diakses pada 15 September 2020 pukul 9.32)

Damarjati, Danu. 5 Januari 2019. Benarkah Minat Baca Orang Indonesia Serendah Ini?. https://news.detik.com/berita/d-4371993/benarkah-minat-baca-orang-indonesia-serendah-ini (Diakses pad 15 September 2020 pukul 9.36)

Sahabat Keluarga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 3 September 2019. Bagaimana Menumbuhkan Minat Baca pada Anak?. https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=249900529 (Diakses pada 15 September 2020 pukul 9.57)

SellCell. 15 Juli 2019. Kids Cell Phone Use Survey 2019: Truth About Kids & Phones. https://www.sellcell.com/blog/kids-cell-phone-use-survey-2019 (Diakses pada 15 September 2020 pukul 9.46)