Penulis : Diavena Alusia Tamba

 

Apakah Sahabat Werkudara pernah mengalami stres kerja? Kalau iya, tidak perlu takut karena stres kerja merupakan hal umum yang sering terjadi pada karyawan di suatu perusahaan. Stres merupakan suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang, sedangkan stres kerja merupakan suatu kondisi ketegangan yang menciptakan adanya ketidakseimbangan fisik dan psikis, yang mempengaruhi emosi, proses berpikir, dan kondisi seorang karyawan dalam menghadapi pekerjaan.

Stres kerja sedikit banyak dapat membawa dampak negatif bagi karyawan itu sendiri dan perusahaan. Lalu bagaimana mengatasi stres kerja tersebut? Untuk mengatasinya, kamu mungkin perlu menyadari dari mana faktor penyebab stres tersebut berasal dan dengan begitu kamu akan lebih mudah untuk mencari cara mengatasi stres tersebut. Faktornya apa saja? Simak artikel di bawah ini untuk mengetahui faktor penyebab stres kerja dan cara mengatasinya!

 

Penyebab Stres Kerja

Sumber gambar: https://www.kajianpustaka.com/2016/10/pengertian-penyebab-dan-akibat-stres-kerja.html

Luthans (2006) seperti yang dikutip oleh Biru (2016) menyebutkan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang mengalami stres kerja, yaitu:

1.   Stressor Ekstraorganisasi

Stressor Ekstraorganisasi adalah faktor penyebab stres yang berasal dari luar perusahaan, seperti perubahan sosial, kesulitan dalam mengikuti globalisasi, kurangnya dukungan dari keluarga atau lingkungan sekitar, perbedaan nilai dan keyakinan, dan lain-lain.

2.   Stressor Organisasi

Stressor Organisasi yaitu penyebab stres yang berasal dari dalam perusahaan itu sendiri. Adanya tanggung jawab tanpa otoritas, ketidakmampuan menyuarakan keluhan, penghargaan yang tidak memadai, kurangnya deskripsi kerja yang jelas, tuntutan pekerjaan yang kronis, dan lainnya dapat menyebabkan karyawan mengalami stress kerja.

3.   Stressor Kelompok

Karyawan sangat dipengaruhi oleh dukungan anggota kelompok yang kohesif. Jika karyawan tidak mengalami kesempatan kebersamaan karena desain kerja, hubungan antar rekan kerja berkurang, atau ada anggota kelompok yang menyingkirkan karyawan lain, maka hal tersebut akan menyebabkan stres pada karyawan.

4.   Stressor Individu

Situasi dan disposisi individu dapat mempengaruhi stres, seperti tipe kepribadian dan kontrol personal. Lingkungan kerja yang kurang kondusif, seperti seringnya karyawan mendapat tekanan, beban tugas yang sangat berat atau sangat ringan, atau ketidakjelasan peran yang dimainkan, dapat membangkitkan karakteristik pribadi yang mempunyai kecenderungan mudah stress dan depresi.

Dari beberapa faktor tersebut, rata-rata karyawan di Indonesia mengalami stres kerja akibat dari stressor di luar perusahaan dan di dalam perusahaan itu sendiri. Sayangnya perusahaan seringkali tidak menyadari faktor tersebut dan akhirnya berakibat buruk pada kesehatan mental si karyawan. Padahal stres cenderung membawa dampak negatif pada kinerja karyawan. Jika karyawan mengalami stres sampai pada tahap yang tinggi, maka kinerjanya akan semakin menurun. Hal ini dikarenakan karyawan tersebut lebih memilih menggunakan tenaganya untuk mengatasi stres daripada melakukan tugasnya.

 

Manajemen Stres Kerja

Sumber gambar: pngwing.com

Manajemen stress merupakan kemampuan penggunaan sumber daya secara efektif untuk mengatasi gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang muncul karena tanggapan (respons). Adapun tujuan dari manajemen stress adalah mencegah timbulnya stress pada karyawan, menampung akibat fisiologis dari stress, untuk memperbaiki kualitas hidup karyawan agar menjadi lebih baik, serta untuk mencegah berkembangnya stress jangka pendek menjadi stress jangka panjang atau stress yang kronis (Marliani, 2015 dikutip oleh Asih, 2018).

Ada 2 pendekatan yang dapat dilakukan dalam strategi manajemen stres kerja, yaitu:

1.   Pendekatan Individu

Karyawan dapat mengendalikan stres kerja yang dialami dengan kemampuan dirinya sendiri, seperti relaksasi, manajemen waktu, manajemen peran, olahraga atau meningkatkan latihan fisik, makan makanan yang sehat dan teratur, dan lain-lain. Individu yang memiliki daya tahan lebih kuat akan bertahan dan akan berkembang dalam lingkungannya, tetapi individu yang memiliki daya tahan lemah akan mudah mengalami stres dan konflik yang berbahaya.

2.   Pendekatan Organisasional

Strategi yang dapat dilakukan oleh perusahaan adalah meningkatkan keterlibatan karyawan dalam pengambilan keputusan, melakukan pemberdayaan karyawan, meningkatkan komunikasi organisasi secara formal dengan para karyawan, cuti panjang karyawan, dan Program Kesehatan (wellness program) yang mana program ini menitikberatkan pada kondisi total fisik dan mental dari karyawan.

Selain penanganan stres dari dalam diri dan dari perusahaan, dukungan sosial juga dapat menjadi sarana menurunkan stres. Dengan adanya dukungan sosial, diharapkan seseorang yang mengalami stres akan lebih semangat dan berusaha untuk mengatasi rasa pesimis dalam dirinya. Hal ini dikarenakan dukungan sosial dapat berdampak pada kontrol diri seseorang. Kasih sayang, rasa hormat, pujian dan penghargaan dan dukungan lainnya dapat meningkatkan kontrol diri dan daya tahan psikologis seseorang. Jadi ketika seseorang mengalami stres dan menerima dukungan dari lingkungan sekitarnya, orang tersebut akan mampu mengatasi stres tersebut secara efektif.

Untuk Sahabat Werkudara yang masih bingung cara mengatasi stres kerja, kamu bisa banget ikut program baru Werkudara Institute yaitu Ceritasik Mentorship. Dalam acara Ceritasik Mentorship nanti, kamu akan diberikan materi terkait “Manajemen Stres Kerja” dan dibimbing oleh seorang mentor terkait bagaimana cara kamu mengatasi stres kerja tersebut. Untuk kamu yang tertarik dan penasaran seperti apa kegiatan mentorshipnya, kamu bisa follow Instagram @werkudara.ins untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. Sampai bertemu di Ceritasik Mentorship!

 

Sumber:

1.   Biru, M., Utami, H. N., & Mayowan, Y. (2016). Analisis faktor-faktor stres kerja yang mempengaruhi kinerja karyawan (studi pada karyawan tetap Pg. Kebon Agung Kabupaten Malang). Jurnal Administrasi Bisnis, 39(2), 50-56.

2.   Asih, G. Y., & Psi, S. 2018. STRES KERJA.

3.   Bachroni, M., & Asnawi, S. (1999). Stres kerja. Buletin Psikologi, 7(2).

4.   Mulyono, F. (2010). Penanganan stres terkait pekerjaan. Jurnal Administrasi Bisnis, 6(2).