Penulis : Sesilia Sophia Kadita

 

Sebagai pencari kerja kerap kali terpikirkan, mengapa dalam proses rekrutmen memerlukan psikotes? Kamu mungkin ada yang sudah berkali-kali melalui tahap psikotes di beberapa perusahaan namun tidak berlanjut ke tahap selanjutnya. Kamu mungkin bertanya-tanya, apa fungsi dari psikotes? Apa yang dilihat perusahaan dari psikotest?

Psikotes saat ini sudah menjadi tes mendasar dalam proses rekrutmen perusahaan. Perusahaan pasti menginginkan orang yang tepat untuk posisi yang tepat. Calon karyawan juga pasti menginginkan pekerjaan yang sesuai kemampuan dan minatnya. Psikotest ini bisa menjadi jawaban untuk menemukan kesesuaian tersebut.

Berikut alasannya mengapa psikotes penting dilaksanakan oleh perusahaan dalam proses rekrutmen:

 

Mengenali Kepribadian

(Sumber: beritagar.id)

Biasanya saat melakukan tahap wawancara, calon karyawan ingin memberikan impresi yang sebaik mungkin. Calon karyawan akan berusaha membentuk citra diri terbaik diri melalui jawaban dari pertanyaan interview. Hal ini yang menyebabkan proses wawancara saja tidak cukup untuk mengenal calon karyawan.

Nah, psikotes ini dijalankan oleh perusahaan untuk mengetahui kepribadian calon pekerja yang sebenarnya. Perusahaan mampu melihat kepribadian seperti sifat dan karakter pekerja yang sesungguhnya, yang tidak dapat ditemukan dalam tahap wawancara. Biasanya psikotes dilaksanakan di tahap rekrutmen paling awal sehingga saat proses wawancara perusahaan dapat memastikan apakah data kepribadian dari psikotes sesuai dengan hasil wawancara.

 

Memetakan Posisi

(Sumber: smartpresence.id)

Melalui psikotest sudah diketahui bagaimana kepribadian calon karyawan. Hasil ini kemudian digunakan untuk melihat kecocokan antara calon karyawan dan posisi yang dilamar. Tidak jarang satu lowongan pekerjaan bisa dilamar oleh ratusan pelamar atau bahkan lebih. Psikotest ini digunakan untuk menyeleksi calon karyawan mana yang memiliki kriteria sesuai untuk posisi yang tersedia.

Kerap kali dari hasil psikotes menunjukkan bahwa kepribadian seorang calon karyawan ternyata sesuai untuk posisi lain yang juga tersedia. Maka tidak jarang bila calon karyawan pada tahap wawancara kemudian ditawarkan dengan posisi lain.

Sebagai contoh, posisi untuk Account Executive membutuhkan karyawan yang memiliki kepribadian energik, persuasif, dan senang bersosialisasi. Maka calon karyawan yang memiliki kepribadian senang mengamati dan menganalisis tidak akan diterima, atau mungkin ditawarkan untuk posisi Bisnis Intelligent yang lebih sesuai.

Memprediksi Kemampuan/Performa Kerja

(Sumber: smallbusiness.co.uk)

Setiap orang memiliki performa kerja yang berbeda-beda. Ada seseorang yang senang bekerja dalam tim sehingga kinerja terbaiknya ketika bekerja bersama-sama, namun ada pula yang performa kerjanya lebih meningkat ketika bekerja secara individu. Semua ini dapat terlihat dari hasil psikotes.

Soal-soal atau rangkaian tes dalam psikotes dirancang untuk menunjukkan preferensi seseorang terhadap pekerjaan. Perusahaan tidak mungkin mencoba mempekerjakan karyawan beberapa saat, kemudian saat tidak cocok akan di PHK. Lebih baik mengetahui kemampuan dan kinerjanya di awal melalui psikotest.

 

Memprediksi Potensi Pekerja

(Sumber: kompas.com)

Psikotes mampu menunjukkan potensi calon karyawan. Tidak hanya potensi dalam hal performa yang baik, namun juga potensi adanya kinerja yang menurun. Dari sini akan terlihat potensi pertumbuhan kemampuan calon karyawan atau bahkan faktor yang mempengaruhi penurunan kinerja di masa depan setelah calon karyawan dipekerjakan. Selain melihat kecocokan melalui kepribadian, potensi ini juga memprediksi kesesuaian antara calon karyawan dan posisi yang dibuka.

Psikotes dilakukan bukan hanya menguntungkan perusahaan untuk mendapatkan karyawan terbaik, namun juga menguntungkan calon karyawan karena membuatnya bekerja sesuai dengan minat dan kemampuan. Memiliki karyawan yang bekerja sesuai keahliannya akan membuat produktivitas kerja meningkat karena pekerjaan tidak dilihat sebagai beban.

Maka dari itu, jika kamu saat ini belum menemukan pekerjaan, itu artinya terdapat ketidakcocokan antara dirimu dengan perusahaan dilihat dari kepribadian, etos kerja, dan budaya perusahaan. Perusahaan ingin orang yang tepat pada posisi yang tersedia, kamu juga perlu berada di tempat dan pekerjaan yang tepat.

Coba untuk saat ini kamu cari tahu lebih dulu apa kelebihanmu, apa kemampuanmu, jenis pekerjaan seperti apa yang kamu sukai, dan bidang pekerjaan apa yang kamu minati. Jangan lupa juga untuk selalu mencari tahu mengenai perusahaan yang dilamar, seperti latar belakang, budaya, dan fokus bisnisnya. Ketika kamu sudah memiliki semua jawabannya, kamu bisa kembali lagi mencari pekerjaan yang sesuai dengan dirimu.

 

 

Sumber:

CNN Indonesia. 10 Oktober 2019. Mengenal Apa Itu Psikotes dan Cara Menaklukkannya. https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20190813130249-284-420841/mengenal-apa-itu-psikotes-dan-cara-menaklukkannya (Diakses pada 21 September 2020 pukul 2.32)

Simbolon, Nelson. 13 Oktober 2019. Ini 3 Alasan Kenapa Psikotes Kerja Masih Dibutuhkan. https://www.ekrut.com/media/3-alasan-psikotes-kerja-masih-relevan-hingga-sekarang (Diakses pada 21 September 2020 pukul 2.56)

Suharyanto, Arby. 11 Alasan Tes Psikologi Menjadi Penting untuk Menentukan Pekerjaan. https://dosenpsikologi.com/tes-psikologi-penting-untuk-menentukan-pekerjaan (Diakses pada 21 September 2020 pukul 2.43)