Penulis : Novia Floriani

 

Hari ini, 16 November 2020, Werkudara Institute kembali lagi dengan program Ceritasiksoresore episode #16. Acara ini merupakan mini session dari Webinar Ceritasik berdurasi 30 menit yang tayang melalui Live Instagram. Tema Ceritasiksoresore kali ini adalah “Agile Human Resource Management”. Fransiscus Ian atau yang akrab disapa Mas Ian selaku CEO Werkudara Institute akan menjadi pembicara pada Cerita asik sore-sore kali ini. Klara Putri selaku Business Development Manager Werkudara juga turut hadir untuk memandu sesi.

Agile merupakan sebuah kata dari bahasa inggris yang secara harfiah berarti tangkas. Penggunaan istilah agile dalam Human resource sendiri lahir akibat mulai dituntutnya organisasi-organisasi untuk dapat melakukan berbagai pendekatan baru berbasis teknologi. Perubahan atau disrupsi sendiri kerap terjadi sangat cepat dan tak menentu. Kondisi ini biasa disebut dengan istilah VOCA (Volatility, Uncertainty, Complexity and Ambiguity). Jadi, agile atau tangkas disini diartikan sebagai kemampuan untuk dapat menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan yang ada.

Lalu, apa hubungan ketangkasan (agile) dengan human resource management? Mas Ian menjelaskan, sebagai salah satu bagian dari organisasi, bagian SDM juga turut dituntut untuk peka terhadap berbagai perubahan yang ada. Contohnya adalah dalam menyesuaikan dengan teknologi yang terus berkembang. “Misalnya, direkturnya ingin lari kencang nih, tetapi orang dibawahnya tidak bisa (mengikuti). Itu kan bahaya”, ujar Mas Ian. Jadi, bagian SDM disini dituntut untuk selalu responsif serta adaptif terhadap perubahan-perubahan yang muncul.

Agile sendiri pada dasarnya merupakan sebuah pola pikir atau mindset. Oleh sebab itu, tidak ada tahapan baku dalam penerapannya. “Tahapannya tergantung organisasi masing-masing, yang penting organisasi tersebut siap berubah”, kata Mas Ian. WIllingness (keinginan) untuk berubah adalah modal awal organisasi untuk siap menghadapi disrupsi. Disusul dengan readiness di urutan kedua yang berarti kesiapan.  Berbagai tantangan di lapangan bisa jadi rawan membuat organisasi menyerah. Oleh karena itu, diperlukan kesiapan yang matang sebelumnya. Terakhir, sampailah pada tahap pengembangan mindset. Disinilah konsep agile mulai dapat berperan. Dengan mengembangkan pola pikir agile, nilai-nilai akan terbentuk dan menjadi prinsip yang akan dibawa dalam budaya organisasi, serta prosedur-prosedur terkait human resource.

Kemudian, muncul pertanyaan perusahaan seperti apa yang memerlukan mindset agile. Menurut Mas Ian, pada dasarnya semua perusahaan memerlukan hal tersebut. Tetapi kembali lagi tergantung mereka menganggap hal ini sebagai hal yang penting atau tidak. Kalau di daerah kota besar sudah banyak yang menerapkannya, berbeda dengan organisasi-organisasi di daerah. Mereka kebanyakan masih mempertahankan konvensionalitas. Beberapa bahkan terpaksa menutup bisnis atau pabriknya hanya karena gagal bersaing dengan yang sudah menerapkan konsep agile.

Lalu, apa saja contoh penerapan praktis agile dalam bidang HR? Mas Ian menyebutkan contoh yang paling signifikan adalah terkait rekrutmen dan pelatihan (training). Proses rekrutmen konvensional akan menunggu adanya permintaan, barulah seleksi akan diadakan. Begitupun dengan pelatihan-pelatihan. Tetapi, jika ingin menerapkan pola pikir agile, hal ini sudah tidak bisa lagi dilakukan. Harus ada peningkatan employer branding. Contoh konkritnya adalah misalnya dengan menjalin relasi dan mengadakan berbagai seminar di kampus-kampus ternama. Sehingga, promo produk bukan lagi menjadi fokus utama. Menonjolkan perusahaan sebagai suatu tempat kerja yang kondusif dan berbudaya juga menjadi salah satu tujuan utama.

Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang jasa pelatihan dan konsultasi terkait HR, Werkudara sendiri sudah menerapkan konsep agile human resource. Salah satunya dengan menyediakan online training dengan sistem Learning Management System (LMS). Sistem LMS akan menawarkan fleksibilitas bagi para konsumen.Tidak akan terbatas oleh waktu, serta keterampilan dasarnya. “Mau belajar jam 12 malam bisa, para manajer maupun staf marketing kalau ingin belajar tentang HR juga bisa”, kata Mas Ian.

Kedepannya, Werkudara akan menyediakan layanan hybrid learning yang akan memungkinkan konsumen mempelajari materi melalui online learning yang fleksibel, tetapi juga dapat mengikuti webinar untuk membahas lebih dalam terkait hal-hal praktis.

Di akhir sesi Live, Mas Ian memberikan pesan sebagai penutup, “Dengan perubahan yang ada, kita dituntut untuk lebih adaptif dan responsif. Sehingga, prinsip ini (agile) harus mulai diberdayakan, perlahan. Mungkin tidak semua organisasi akan mudah melakukan ini, tetapi intinya harus adaptif tentang perubahan budaya, teknologi, dan kondisi lain yang ada sekarang”, ujarnya.

Untuk kamu yang ketinggalan Ceritasiksoresore kali ini bisa menonton tayangan ulangnya di IG TV @werkudara.ins. Jangan lupa untuk tonton Ceritasiksoresore di episode yang akan datang! Sampai jumpa.