Penulis : Diavena Alusia Tamba

Indonesia sudah merayakan kemerdekaannya selama 75 tahun. Walaupun begitu, masih banyak hal menarik yang terjadi pada 17 Agustus 1945 untuk diceritakan kembali kepada generasi muda. Hal tersebut mengingatkan betapa besarnya perjuangan para pahlawan untuk membebaskan Indonesia dari tangan penjajah. Berikut ini merupakan beberapa hal menarik yang dirangkum dari berbagai sumber.

Soekarno Jatuh Sakit

Sebelum upacara pembacaan Teks Proklamasi dilakukan, Soekarno jatuh sakit setelah menghabiskan waktu untuk mempersiapkan naskah teks proklamasi pada malam harinya. Ternyata beliau menderita malaria dan baru bisa tidur dengan pulas 2 jam sebelum upacara pembacaan Teks Proklamasi. Para undangan sendiri telah banyak berdatangan, rakyat yang telah menunggu  sejak pagi, mulai tidak sabar lagi. Mereka yang diliputi suasana tegang berkeinginan keras agar Proklamasi segera dilakukan.

Pada akhirnya pukul 10.00 WIB, Soekarno bersama dengan Hatta membacakan Teks Proklamasi dengan lantang dan berkobar-kobar di hadapan para pemuda Indonesia yang saat itu berkumpul di depan teras rumahnya. Bahkan saat sakit pun Soekarno masih dapat mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia dengan semangat yang membara. Kita pasti tidak akan tahu jika waktu itu Sang Proklamator sedang sakit jika tidak dicatat dalam sejarah.

Mesin Ketik milik NAZI

Setelah naskah teks proklamasi dirampungkan, ternyata di rumah milik Laksamana Maeda tidak terdapat mesin tik berhuruf latin dan hanya ada mesin tik berhuruf kanji. Maka dari itu pembantu Laksamana Maeda, Satzuki Mishima diminta untuk mencari mesin tik. Beliau kemudian pergi ke kantor militer milik Jerman menggunakan mobil jeep untuk meminjam mesin tik. Untungnya Satzuki bertemu Kolonel Kandeler komandan Angkatan Laut Jerman (Kriegsmarine) yang bersedia meminjamkan mesin tik. Sesampainya mesin tik di rumah Maeda, Sayuti Melik ditemani BM Diah mengetik naskah proklamasi.

“Dia (Sayuti Melik) menuju ke ruang lain yang ada meja tulis dan mesin ketik,” kata Diah. “Saya berdiri di belakang Sayuti Melik ketika dia mengetik,” sambung Diah. Sayuti Malik mengetik naskah proklamasi dengan perubahan kata ‘tempoh’ diubah menjadi ‘tempo’ dan kalimat “wakil-wakil bangsa Indonesia” diganti menjadi “Atas nama Bangsa Indonesia”. Selain itu, ia juga menambahkan nama “Soekarno-Hatta” serta “Djakarta,17-8-05” menjadi “Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05”. Angka 05 adalah singkatan dari 2605 tahun showa Jepang, yang sama dengan tahun 1945 masehi.

Bendera Merah Putih dari Tentara Jepang

Ternyata bendera merah putih yang dikibarkan pada 17 Agustus 1945 lalu merupakan kain pemberian seorang perwira Jepang. Dalam tulisan Chairul Basri dikatakan bahwa pada saat itu barang ekspor impor dipegang oleh Jepang, tetapi berkat bantuan seorang perwira Jepang, Hitoshi Shimizu, Fatmawati akhirnya mendapatkan kain berwarna merah dan putih. Hal ini juga disampaikan sendiri oleh Fatmawati dalam bukunya yang berjudul “Catatan Kecil Bersama Bung Karno, Volume 1” yang terbit tahun 1978.

Kain itulah yang kemudian dijahit oleh Fatmawati menggunakan mesin jahit yang dijalankan oleh tangan sebab pada saat itu kondisi fisik Fatmawati cukup rentan akibat kehamilannya dan dokter melarang Fatmawati menggunakan mesin jahit kaki. Betapa besarnya perjuangan Fatmawati saat itu hingga bisa menjahit kain merah dan putih dengan terburu-buru dalam kondisi hamil tuanya.

Rekaman Ulang Suara Soekarno

Pembacaan naskah Teks Proklamasi merupakan peristiwa bersejarah yang sangat penting. Hal tersebut untuk menandakan bahwa Indonesia telah merdeka dari tangan penjajah. Walaupun begitu, apakah kamu tahu bahwa suara Soekarno yang diputar di media setiap tanggal 17 Agustus bukan direkam pada saat pembacaan Teks Proklamasi langsung?

Suara lantang milik Bung Karno yang selalu kita dengar saat memeriahkan kemerdekaan Indonesia tidak direkam secara langsung pada tanggal 17 Agustus 1945. Suara tersebut direkam pada tahun 1950 atau sekitar 5 tahun setelah kemerdekaan. Jusuf Ronodipuro sebagai pendiri RRI sekaligus sahabat Soekarno meminta sang presiden untuk membacakan kembali teks proklamasi tersebut dan direkam. Awalnya Soekarno menolak dengan alasan pembacaan teks proklamasi hanya berlaku satu kali dan tidak dapat diulang, tetapi berkat bujukan Jusuf akhirnya Soekarno setuju untuk merekam suaranya saat membacakan teks proklamasi. Setelah sesi rekaman itu barulah teks proklamasi mulai digandakan pada tahun 1959 hingga sekarang akhirnya bisa kita dengar.

Pemilihan Tanggal 17 oleh Soekarno

Mungkin sebagian dari kita bertanya-tanya mengapa Soekarno memilih tanggal 17 Agustus 1945 sebagai hari kemerdekaan Indonesia. Ternyata hal tersebut dikarenakan adanya pertimbangan mistis oleh Soekarno.

“Saya seorang yang percaya pada mistik. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang  berada dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua berpuasa, ini berarti saat yang paling suci bagi kita tanggal 17 besok hari Jumat. Hari Jumat itu Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci. Al-Qur’an diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu  kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia”. Demikian dialog antara Soekarno dengan para pemuda di Rengasdengklok sebagaimana ditulis Lasmidjah Hardi (1984) yang dikutip oleh detik.com.

Jadi alasan Soekarno memilih tanggal 17 sebagai hari kemerdekaan semata-mata karena adanya keterkaitan mistis antara angka 17 dengan unsur-unsur agama Islam.

Itulah beberapa hal menarik yang terjadi di Hari Kemerdekaan Indonesia. Hal tersebut tidak semata-mata terjadi begitu saja tetapi ada perjuangan para pahlawan disana untuk segera mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia walaupun sebagian tentara Jepang masih tidak menyukai keputusan para pahlawan saat itu. Maka dari itu, ada baiknya apabila kita terus mengenang perjuangan para pahlawan dengan menceritakan kembali peristiwa 17 Agustus 1945 pada generasi muda. Semangat 45!

Sumber:

  1. Detik. (10 Agustus 2015). Alasan Mistis Soekarno Pilih Tanggal 17 Agustus Jadi Hari Kemerdekaan. Diakses pada tanggal 17 Agustus 2020, dari https://news.detik.com/berita/d-2987637/alasan-mistis-soekarno-pilih-tanggal-17-agustus-jadi-hari-kemerdekaan
  2. Hipwee. (17 Agustus 2014). Fakta-Fakta Menarik dari Sejarah Indonesia yang Nggak Kamu Dapatkan di Sekolah. Diakses pada tanggal 16 Agustus 2020, dari https://www.hipwee.com/hiburan/fakta-sejarah-indonesia-yang-tidak-pernah-diajarkan-di-sekolah/
  3. Historia. (18 Agustus 2014). Meluruskan Sejarah Bendera Pusaka. Diakses pada tanggal 16 agustus 2020, dari https://historia.id/politik/articles/meluruskan-sejarah-bendera-pusaka-Pdk8v
  4. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (1 Juli 2020). [TAHUKAH KAMU : Mesin Ketik dan Naskah Proklamasi]. Diakses pada tanggal 16 Agustus 2020, dari https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/mpnp/tahukah-kamu-mesin-ketik-dan-naskah-proklamasi/
  5. Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia. (17 Agustus 2019). Membuka Catatan Sejarah: Detik-Detik Proklamasi, 17 Agustus 1945. Diakses pada tanggal 16 Agustus 2020, dari https://setneg.go.id/baca/index/membuka_catatan_sejarah_detik_detik_proklamasi_17_agustus_1945
  6. Kompas. (16 Agustus 2020). Profil Ibu Fatmawati Soekarno dan Kisahnya Menjahit Sang Merah Putih. Diakses pada tanggal 16 Agustus 2020, dari https://www.kompas.com/tren/read/2020/08/16/073000465/profil-ibu-fatmawati-soekarno-dan-kisahnya-menjahit-sang-merah-putih-?page=all
  7. Kompas. (17 Agustus 2018). Cerita Naskah Proklamasi dan Mesin Tik Milik Perwira Nazi. Diakses pada tanggal 16 Agustus 2020, dari https://nasional.kompas.com/read/2018/08/17/13475481/cerita-naskah-proklamasi-dan-mesin-tik-milik-perwira-nazi?page=all
  8. Kompas. (8 Agustus 2019). Fakta 17 Agustus, dari Mesin Ketik Nazi hingga Mikrofon Kemerdekaan. Diakses pada tanggal 16 Agustus 2020, dari https://nasional.kompas.com/read/2019/08/08/19464401/fakta-17-agustus-dari-mesin-ketik-nazi-hingga-mikrofon-kemerdekaan?page=all
  9. Tirto. (27 Januari 2020). Joesoef Ronodipoero: Hampir Mati Gara-gara Menyiarkan Proklamasi. Diakses pada tanggal 16 Agustus 2020, dari https://tirto.id/joesoef-ronodipoero-hampir-mati-gara-gara-menyiarkan-proklamasi-cDSf