Penulis : Sesilia Sophia Kadita

COVID-19 berdampak sangat besar salah satunya terhadap bidang pendidikan. Pemerintah melakukan upaya penekanan angka terkonfirmasi dengan melakukan belajar secara daring atau yang disebut dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Tahun ajaran baru sudah kembali dimulai pada Juli 2020. Pemerintah sudah memperbolehkan sekolah-sekolah dalam zona hijau untuk membuka kembali sekolahnya dengan tetap mengikuti protokol kesehatan, sedangkan daerah dengan zona kuning, oranye, dan merah masih dengan melakukan PJJ.

Nah, apakah PJJ ini sebenarnya sudah efektif? Lalu jika sekolah dibuka kembali kira-kira akan seperti apa, ya?

Survei UNICEF

UNICEF telah melakukan survei pada 18-29 Mei 2020 dan 5-8 Juni 2020 melalui kanal U-Report kepada siswa di 34 provinsi Indonesia. Terdapat lebih dari 4000 koresponden mengenai pengalaman dalam melakukan PJJ.

Sumber: indonesia.ureport.in

Hasilnya 69% mengatakan mereka merasa bosan belajar di rumah. Alasan utama adalah karena kurangnya bimbingan guru dan akses internet yang buruk. Mayoritas siswa sebanyak 87% mengatakan mereka ingin cepat kembali belajar di sekolah. Sebanyak 62% mengatakan bahwa mereka membutuhkan bantuan untuk kuota internet.

Survei Kemendikbud

Kemendikbud sebagai penggagas PJJ juga pastinya melakukan survei terhadap program mereka ini sebagai bentuk evaluasi. Survei dilakukan pada 13-22 Mei 2020 secara daring dan bekerja sama dengan UNICEF pada 18 Mei-2 Juni 2020 melalui sms gratis untuk daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal).

Sumber: tirto.id

Survei dilakukan terhadap siswa dan orang tua di seluruh jenjang pendidikan di Indonesia. Hasilnya, 96,6% siswa sudah belajar sepenuhnya dari rumah dan 90% orang tua mendampingi anaknya belajar. Hasil survei ini juga menunjukkan bahwa jaringan internet yang tidak memadai menjadi kendala pelaksanaan PJJ.

Didapatkan pula cara mengajar guru masa PJJ adalah hanya dengan memberikan penugasan dan mengerjakan soal-soal saja. Pembelajaran interaktif pun dilakukan kurang dari 40% siswa. Untuk menghadapi kendala ini Kemendikbud akan segera menyediakan modul yang dibuat semenarik mungkin agar siswa tidak mudah bosan, terutama untuk daerah 3T.

Pembukaan Kembali Sekolah

Sumber: Kemendikbud RI

Tahun ajaran baru tetap dimulai pada Juli 2020. Pemerintah pada 15 Juni 2020 mengeluarkan panduan penyelenggaraan pembelajaran pada masa COVID-19. Panduan ini merupakan hasil dari keputusan bersama antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Dalam Negeri. Sekolah-sekolah sudah diperbolehkan melaksanakan belajar tatap muka dengan syarat:

  1. Kabupaten/Kota dalam zona hijau (tidak ada penambahan kasus/level resiko)
  2. Mendapat izin dari pemerintah daerah
  3. Memenuhi daftar periksa dan siap pembelajaran tatap muka
  4. Orang tua setuju untuk pembelajaran tatap muka

Berdasarkan data per 15 Juni 2020, baru ada 6% wilayah di Indonesia yang masuk dalam zona hijau. Jika ada satu dari empat syarat ini yang tidak terpenuhi meski sudah berada pada zona hijau, maka peserta didik tetap diperbolehkan untuk melanjutkan PJJ.

Pembukaan kembali sekolah di zona hijau juga melalui beberapa tahap, yaitu dimulai dari tahap I SMA dan SMP, tahap II SD, dan tahap III PAUD dengan masing-masing tahap memiliki jeda selama dua bulan. Begitu ada penambahan kasus positif, sekolah wajib ditutup kembali. Sedangkan untuk tingkat perguruan tinggi di semua zona wajib untuk melaksanakan kuliah daring.

Dampak Dibukanya Kembali Sekolah di Luar Negeri

Pembukaan kembali sekolah dan dilakukannya pembelajaran tatap muka memang perlu pertimbangan yang sangat matang. Pemerintah perlu memastikan bahwa kembali dibukanya sekolah tidak akan menambah jumlah terkonfirmasi positif COVID-19. Maka dari itu hingga saat ini pemerintah masih sangat ketat terhadap syarat dibukanya sekolah hanya pada daerah dengan status zona hijau.

Sumber: Kompas.com

Korea Selatan telah membuka kembali sekolah dengan panduan protokol kesehatan sejak 27 Mei 2020. Namun aktivitas ini tidak berlangsung lama karena sehari kemudian dilaporkan terdapat 79 kasus positif baru yang merupakan angka tertinggi selama dua bulan terakhir. Akibatnya lebih dari 200 sekolah kembali ditutup sementara ratusan lainnya menunda dibuka kembali.

Perancis juga mengalami hal yang sama. Pada Mei 2020 Perancis telah membuka kembali sekolah namun kembali ditutup karena ditemukan 70 kasus baru setelah sepekan pembukaan sekolah. Meski dari kasus Korea Selatan dan Perancis tidak dapat dipastikan bahwa meningkatnya kasus karena sekolah kembali dibuka, tetapi pemerintah menetapkan cara ini sebagai solusi mencegah lonjakan kasus yang lebih parah.

Berdasarkan hasil survei memang dapat terlihat bahwa pelaksanaan PJJ kurang efektif dan terbatasnya jaringan internet sebagai kendala utama. Kondisi seperti ini dikhawatirkan akan menyebabkan tidak seimbangnya pendidikan di Indonesia. Namun, pemerintah tidak boleh mengambil langkah gegabah untuk membuka kembali sekolah hanya karena protes masyarakat.

Kasus Korea Selatan dan Perancis menjadi contoh bagi Indonesia maupun dunia bahwa PJJ masih menjadi solusi penekanan angka COVID-19. Ayo kita bersama-sama menekan penyebaran virus corona sehingga sekolah dan kampus dapat kembali dibuka dan kita pun boleh beraktifitas kembali dengan normal.

Kalau menurut sahabat Werkudara sendiri ada gak sih solusi lain untuk menekan penyebaran COVID-19?

Sumber:

Aida, Nur Rohi. 4 Juni 2020. Melihat Dampak di Korea Selatan Hingga Prancis Setelah Sekolah Dibuka Kembali. Kompas.com https://www.kompas.com/tren/read/2020/06/04/120504565/melihat-dampak-di-korea-selatan-hingga-perancis-setelah-sekolah-dibuka?page=all (Diakses pada 24 Agustus 2020 pukul 19.54)

Arika, Yovita. 13 Juli 2020. Pembelajaran Jarak Jauh Berlanjut, Siswa yang Rentan Tetap Terkendala. Kompas.id. https://www.kompas.id/baca/dikbud/2020/07/13/pembelajaran-jarak-jauh-berlanjut-siswa-yang-rentan-tetap-terkendala/ (Diakses pada 24 Agustus 2020 pukul 12.25)

Kementerian Pendidikan dan kebudayaan. 15 Juni 2020. Kemendikbud Keluarkan Panduan Tahun Ajaran Baru, Ini Syarat Belajar Tatap Muka. http://pgdikmen.kemdikbud.go.id/read-news/kemendikbud-keluarkan-panduan-tahun-ajaran-baru-ini-syarat-belajar-tatap-muka (Diakses pada 24 Agustus 2020 pukul 12.17)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 24 Juni 2020. Kemendikbud: Orang Tua Memegang Peranan Penting dalam Pelaksanaan Belajar dari Rumah. https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2020/06/kemendikbud-orang-tua-memegang-

peranan-penting-dalam-pelaksanaan-belajar-dari-rumah (Diakses pada 24 Agustus 2020 pukul 20.10)

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2020. Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru di Masa Pandemi CoronaVirus Disease (COVID-19). Keputusan Bersama: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kemnterian Agama, Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri.

UNICEF. 16 Juni 2020. Indonesia: Survei Terbaru Menunjukkan Bagaimana Siswa Belajar dari Rumah. https://www.unicef.org/indonesia/id/press-releases/indonesia-survei-terbaru-menunjukkan-bagaimana-siswa-belajar-dari-rumah (Diakses pada 24 Agustus 2020 pukul 12.08)

Ureport. 5 Juni 2020. Rencana Kembali ke Sekolah di Masa Covid-19. https://indonesia.ureport.in/opinion/4283/ (Diakses pada 24 Agustus 2020 pukul 12.10)