Penulis : Sesilia Sophia Kadita

 

 

Apakah kamu tahu bahwa setiap tanggal 11 September diperingati sebagai Hari Radio Republik Indonesia?

(Sumber: tirto.id)

Sejarah perkembangan radio di Indonesia bermula pada masa penjajahan, di mana Belanda sadar akan pentingnya saluran komunikasi udara dan menggunakannya untuk menyampaikan pesan perdagangan. Rakyat Indonesia pun bermimpi untuk mendirikan radio sendiri dan terbentuklah radio pertama yang didirikan orang Indonesia pada 16 Juni 1925, Bataviase Radiovereninging. Radio lokal mulai bermunculan dan digunakan untuk melawan propaganda Belanda.

Salah satu upaya melawan penjajah adalah dengan membentuk perserikatan radio ketimuran (istilah Indonesia pada masa itu) yang terdiri dari perwakilan radio Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surakarta, dan Surabaya pada 28 Maret 1937. Sulitnya perizinan membuat siaran radio tertunda hingga tiga tahun dan baru mengudara pertama kali pada 1 November 1940.

Setelah kekalahan Belanda atas Jepang, sambungan radio diputus dan masyarakat hanya boleh mendengarkan radio Hoso Kanri Kyoku. Hingga pada 14 Agustus 1945 ketika Jepang menyerah tanpa syarat, pekerja radio membantu golongan muda untuk menyebarkan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Meski dengan usaha yang keras karena penjagaan yang ketat, pada pukul 19.00 proklamasi berhasil disiarkan dengan bahasa Indonesia dan Inggris.

 

Sejarah Hari Radio Republik Indonesia

(Sumber: merahputih.com)

RRI didirikan sebulan setelah siaran radio Hoso Kyoku milik Jepang dihentikan pada 19 Agustus 1945. Saat itu banyak beredar kabar dari radio luar negeri bahwa tentara Inggris alias sekutu akan menduduki Jawa dan Sumatera untuk melucuti Jepang dan mengembalikan kedudukan Belanda atas Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, perwakilan Indonesia yang pernah aktif dalam radio Hoso Kyoku menyadari pentingnya radio sebagai media penyebar informasi dan instruksi kepada masyarakat tentang apa yang harus dilakukan. Radio dianggap penting karena dinilai lebih cepat dan tidak mudah terputus saat pertempuran.

Delapan wakil ini kemudian mengadakan pertemuan dengan pemerintah di Jakarta pada 11 September 1945. Secara garis besar, Abdulrahman Saleh yang menjadi ketua delegasi meminta pemerintah untuk mendirikan radio sebagai penghubung dengan rakyat dan menyarankan untuk menggunakan kembali studio serta pemancar Hoso Kyoku. Namun sayangnya radio Hoso Kyoku telah menjadi barang inventaris sekutu.

Pada akhirnya, pertemuan itu menyimpulkan untuk mendirikan Persatuan Radio Republik Indonesia, meneruskan penyiaran 8 stasiun radio di Jawa, mempersembahkan RRI kepada pemerintah, dan mengimbau supaya hubungan antara pemerintah dan RRI disalurkan melalaui Abdulrahman Saleh. Pemerintah akhirnya menyetujui dan siap membantu RRI. Tepat pukul 24.00, delegasi dari 8 stasiun radio di Jawa mengadakan pertemuan di rumah Adang Kadarusman. Hasil akhir dibentuklah RRI dan Abdulrahman Saleh sebagai ketua.

 

Strategi Bisnis Radio di Tengah Perkembangan Teknologi

(Sumber: kpi.go.id)

Radio sempat menjadi media penting yang berperan sebagai media penyebar informasi. Kini fungsi radio bahkan melebar menjadi media hiburan. Namun seiring terus berkembangnya teknologi, radio pernah diprediksi akan mati dan digantikan dengan teknologi lain seperti televisi dan internet.

Norwegia pada awal 2017 mengumumkan untuk mematikan siaran radio FM di negara tersebut. Keputusan ini diambil karena 66% radio FM di negara tersebut sudah mati, 17% beruntung masih bisa bertahan, dan sisanya belum memutuskan nasib mereka. Pemerintah Norwegia mengatakan bahwa negara lain akan mengikuti jejak mereka.

Nyatanya, hingga saat ini radio masih terus mengudara terutama di Indonesia. Apa saja strategi bisnis radio supaya bisa tetap bertahan?

1.   Memperluas fungsi

Radio yang pada masa awalnya berfungsi sebagai media utama penyebar informasi, lambat laun berkembang sesuai dengan kebutuhan manusia dan salah satunya menjadi media hiburan. Hiburan utama yang disediakan radio adalah dengan musik. Selain itu radio juga berperan menjadi penyebar tren yang terbilang cepat. Contohnya, lagu-lagu yang baru dirilis lebih mudah diketahui lewat radio. Dalam dunia bisnis radio juga menjadi media untuk beriklan.

2.   Membuat program sesuai dengan target audience

Banyaknya radio yang bermunculan membuat masing-masing harus menentukan positioning untuk membedakan satu dengan yang lain. Program-program yang dibawakan juga akan berbeda sesuai dengan posisi masing-masing. Contohnya, program di radio Gen FM dengan target anak muda akan berbeda dengan program radio Sonora FM dengan target orang dewasa dan orang tua.

3.   Konvergensi media

Perkembangan teknologi yang merubah analog menjadi digital juga membuat radio mau tidak mau mengkonvergensi bentuknya. Jika mulanya radio masih dalam bentuk analog yang dimiliki tiap rumah, selanjutnya radio bisa diakses melalui fitur di telepon genggam (HP). Namun semakin lama fitur radio di HP kurang diminati, maka kini beralih menjadi layanan streaming melalui website. Bahkan website beberapa radio kini juga menjadi portal berita online.

4.   Mengikuti perilaku konsumen

Radio dituntut untuk bisa beradaptasi dengan tren yang terus berubah. Saat ini tren dalam media audio adalah dengan hadirnya podcast, yaitu siaran audio yang dapat diulang di mana saja dan kapan saja. Radio masa kini banyak menyediakan podcast yang selain bisa di dengarkan melalui website, juga tersedia di aplikasi musik seperti Spotify. Ada pun selain podcast untuk menggapai target audience yang banyak mengakses Youtube, maka biasanya siaran dibuat dalam bentuk video yang kemudian diunggah ke Youtube.

5.   Radio 3.0

Radio kini tidak hanya melakukan siaran on air dan menyediakan siaran online streaming, namun juga berinovasi untuk membuat program-program off air demi menarik minat dan mendekatkan diri dengan target audience. Program off air yang bisa disuguhkan contohnya adalah konser Youth Fest oleh Prambors Radio.

Itulah strategi bisnis yang bisa kita pelajari dari perkembangan radio untuk bisa tetap eksis di tengah perubahan teknologi. Kuncinya adalah untuk tetap beradaptasi dengan model baru dan berinovasi sesuai dengan tren yang berkembang. Kalau kamu sendiri apakah masih suka mendengarkan radio?

 

 

Sumber:

Adawiyah, Rabiatul. 14 Februari 2019. Radio Bertahan Pada Era Disrupsi Teknologi. https://beritagar.id/artikel/berita/radio-bertahan-di-era-disrupsi-teknologi (Diakses pada 9 September 2020 pukul 21.41)

Adieb, Maulana. 8 April 2020. Semakin Banyak Pendengarnya, Sebenarnya Apa Itu Podcast?. https://glints.com/id/lowongan/podcast-adalah/#.X1kIvxAzbIU (Diakses pada 10 September 2020 pukul 0.10)

Isnugroho, Fajar A. 9 September 2019. News Analysis: Pengelola Radio Perlu Atur Strategi Agar Pendengar Tak Berpaling. https://surabaya.tribunnews.com/2019/09/09/news-analysis-pengelola-radio-perlu-atur-strategi-agar-pendengar-tak-berpaling (Diakses pada 9 September 2020 pukul 20.50)

Komisi Penyiaran Indonesia. 12 September 2017. Sejarah Lahirnya Hari Radio Nasional dan RRI. http://www.kpi.go.id/index.php/id/umum/38-dalam-negeri/34107-sejarah-lahirnya-hari-radio-nasional-dan-rri (Diakses pada 9 September 2020 pukul 20.32)

Rahman, Vany El. 13 Februari 2020. Sejarah Panjang Radio di Indonesia, dari Kolonial hingga Millennial. https://www.idntimes.com/news/indonesia/vanny-rahman/sejarah-panjang-radio-di-indonesia-dari-kolonial-hingga-millennial/3 (Diakses pada 9 September 2020 pukul 22.22)

Saraswati, Dyah Paramita. 11 September 2019. Selamat Hari Radio Nasional!. https://hot.detik.com/music/d-4702278/selamat-hari-radio-nasional (Diakses pada 9 September 2020 pukul 20.44)