Penulis : Diavena Alusia Tamba

 

Apakah Sahabat Werkudara sudah pernah mengikuti psikotes? Seperti apa jenis soal yang pernah kamu kerjakan? Tentunya akan lebih banyak jenis soal yang berhubungan dengan penalaran dan kepribadian ya. Sebenarnya jenis soal untuk psikotes itu ada berapa banyak sih? Apa jenis soal psikotes yang paling sering digunakan? Untuk kamu yang baru pertama kali melamar kerja pasti bingung dan penasaran seperti apa soal-soal psikotes di dunia kerja. Selain itu, beberapa dari kamu yang pernah melamar pekerjaan juga belum tentu diminta untuk mengikuti tahap psikotes ini. Kok bisa? Nah untuk kamu yang penasaran, kita akan mengulas alasannya di artikel ini.

Kali ini saya akan berbagi sedikit pengalaman terkait apa saja jenis soal psikotes yang sering digunakan oleh para perusahaan dan perusahaan seperti apa yang sering menggunakan psikotes ini sebagai salah satu seleksi utamanya. Dengan begitu, kamu tidak akan kaget jika harus mengikuti psikotes ini. Ayo simak artikelnya di bawah ini!

Jenis Soal Psikotes

Sumber gambar: https://www.duniakaryawan.com/lulus-psikotes-kerja/

Pada dasarnya, ada banyak sekali jenis soal psikotes yang dapat digunakan oleh perusahaan-perusahaan ketika melakukan seleksi masuk pada karyawan. Namun, ada beberapa jenis soal yang umum atau sering digunakan oleh perusahaan tersebut. Beberapa diantaranya sebagai berikut:

1.   Tes Logika Aritmatika

Bentuk dari tes ini yaitu terdiri dari beberapa deretan angka. Pengukuran yang dilakukan dalam tes ini yaitu kemampuan kamu dalam menganalisis atau memahami pola tertentu dalam wujud angka, setelah itu kamu harus memprediksi beberapa hal lainnya berdasarkan pola yang telah ditentukan tersebut.

2.   Tes Logika Penalaran

Bentuk dari tes ini yaitu terdiri dari deretan gambar yang terdiri dari 2 dimensi maupun 3 dimensi. Yang akan diukur dari tes ini yaitu kemampuan yang dimiliki kamu dalam memahami pola dalam wujud gambar, setelah itu kamu diharuskan untuk memprediksi pola tersebut.

3.   Analog Verbal Test

Bentuk dari tes ini yaitu terdiri dari 40 soal yang isinya berbentuk sinonim, antonim, atau pun analog suatu kata. Jika kamu ingin sukses melewati tes ini, kamu harus melatih konsentrasi kamu dari sekarang, karena pada tahapan ini memerlukan konsentrasi yang ekstra untuk menyelesaikannya.

4.   Kraepelin/Pauli

Dalam tes ini, terdapat gugusan angka-angka yang memang telah disusun secara membujur dalam bentuk lajur-lajur. Ketika tes ini berlangsung, orang yang melakukan tes ini akan diminta untuk menjumlahkan dua angka yang memang posisinya berdekatan dalam waktu yang memang telah ditentukan di setiap kolom serta diminta untuk menuliskan disampingnya.

5.   Wartegg Test

Tes ini terdiri dari delapan kotak yang masing-masing memiliki isi bentuk-bentuk tertentu. Pada tes ini kamu akan diminta untuk menggambarkan kemudian menuliskan urutan dari gambar yang memang telah kamu buat pada waktu sebelumnya, setelah itu kamu juga akan diminta untuk menuliskan nomor gambar yang kamu sukai juga yang kamu tidak sukai, gambar yang sulit serta mudah bagi kamu.

6.   Draw A Man Test (DAM)

Pada bagian tes ini, kamu akan diharuskan untuk menggambar seseorang, setelah itu kamu juga harus mendeskripsikan usia dari seseorang yang kamu gambar, jenis kelamin, serta aktivitas yang dilakukan orang tersebut.

7.   Army Alpha Intelegence Test

Pada tes ini terdiri dari 12 soal yang sisinya kombinasi antara deretan angka dan deretan bentuk. Untuk mengatasi soal ini  kamu diharuskan memiliki konsentrasi yang cukup kuat terhadap kata-kata yang diucapkan narator, dikarenakan narator tidak akan mengulang pertanyaannya yang telah terlontar. Selain itu, kamu juga harus sabar serta jangan terburu-buru dalam menjawab setiap pertanyaan.

8.   Menggambar Pohon

Pada tes ini biasanya Kamu akan diminta untuk menggambarkan sebuah pohon dengan kriteria: berkambium (dicotyl), bercabang, dan berbuah. Kamu tidak diperbolehkan menggambar pohon jenis bambu, pisang, semak belukar, ataupun jenis tanaman monokotil lainnya.

9.   Edwards Personal Preference Schedule (EPPS)

Tes ini terdiri atas beberapa pilihan jawaban yang paling mencerminkan diri kamu. Untuk menghadapi tes ini, ada baiknya jika kamu menjawab setiap pertanyaan dengan jujur tanpa adanya kebohongan yang disesuaikan dengan kondisi kamu.

Seperti yang telah saya sampaikan di artikel sebelumnya terkait proses melamar pekerjaan, saya dihubungi kembali oleh pihak perusahaan untuk mengikuti tahap psikotes setelah lolos seleksi berkas awal. Jenis soal yang diberikan tidak jauh berbeda dengan jenis soal yang disebutkan di atas. (Baca: https://werkudarains.org/blog/2020/09/11/melamar-pekerjaan-gimana-sih-prosesnya-personal-story-of-content-writer-intern/)

Pada tahap psikotes tersebut, soal yang paling banyak keluar adalah soal yang berhubungan dengan penalaran dimana kita diminta untuk memahami pola suatu gambar serta soal yang berhubungan dengan kepribadian. Tes tersebut diberikan untuk melihat kemampuan calon karyawan dalam berpikir dan melihat apakah kepribadiannya cocok dengan posisi yang dilamar. Selain itu, waktu yang diberikan biasanya cukup singkat untuk melihat kecepatan dan ketepatan calon karyawan dalam mengerjakan soal. Maka dari itu, kamu perlu mempersiapkan diri dengan baik sebelum mengikuti psikotes agar hasil yang didapatkan menjadi lebih maksimal.

 

Startup vs Korporasi

Sumber gambar: http://integrasolusi.com/blog/2018/05/28/antara-startup-atau-perusahaan-korporasi/

Seperti yang saya katakan di awal tadi, beberapa dari kamu yang sudah pernah melamar suatu pekerjaan belum tentu akan melewati tahap psikotes ini. Mengapa demikian? Karena nyatanya tidak semua perusahaan menerapkan tahap psikotes. Walaupun tahapan psikotes umum ditemui di hampir sebagian besar perusahaan, namun kebutuhan dan kebijakan dari tiap-tiap perusahaan pasti akan berbeda. Jadi ketika calon karyawan telah melewati tahap seleksi berkas, mereka tidak akan diminta untuk mengikuti tahapan psikotes dan sebagai gantinya mereka akan diminta untuk langsung mengikuti tahap wawancara atau tes-tes lainnya yang dapat mengukur kemampuan si calon karyawan.

Nah biasanya tahap psikotes ini tidak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan startup, sedangkan perusahaan atau korporasi besar masih melakukan tahap psikotes sebelum masuk ke tahap seleksi lainnya. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan cara pandang atau nilai-nilai yang dipegang teguh oleh setiap perusahaan.

Korporasi besar biasanya erat dengan nilai-nilai profesionalisme yang tinggi sehingga tidak mudah untuk dapat menerima karyawan baru. Seleksi yang ketat dan hati-hati kerap dilakukan oleh korporasi besar saat membuka lowongan pekerjaan sehingga kebanyakan generasi muda akan menilai bahwa cara perekrutan perusahaan ini terkesan sulit.

Untuk startup sendiri biasanya lebih terbuka dan menyesuaikan diri dengan nilai-nilai baru yang sesuai perkembangan zaman. Mereka lebih mementingkan kontribusi apa yang dapat diberikan oleh calon karyawan dan apakah calon karyawan memiliki visi dan misi yang sama dengan perusahaan.

Saya sendiri pernah melamar di sebuah perusahaan startup yang bergerak di bidang media. Dalam prosesnya, saya diminta untuk mengirimkan CV dan portofolio sebagai persyaratan seleksi awal. Ketika saya lolos pada tahap seleksi berkas, saya langsung diminta untuk menghadiri tahap wawancara dengan senior dan direktur perusahaan tersebut. Dalam tahap wawancara itu sendiri, saya lebih banyak ditanya mengenai portofolio yang telah saya kerjakan dan diminta untuk lanjut pada tes kemampuan. Jadi saat itu saya sama sekali tidak diminta untuk mengikuti tahap psikotes.

Walau begitu, tidak semua perusahaan startup meninggalkan tahapan psikotes ini. Masih ada beberapa perusahaan startup di luar sana yang menerapkan tahap psikotes untuk melihat kepribadian calon karyawannya. Perusahaan yang seperti itu biasanya tidak hanya mengedepankan ide dan kreativitas saja, tetapi juga menjunjung tinggi etika dan profesionalisme calon karyawan.

Jadi bagi kamu yang akan melamar pekerjaan, baik itu di perusahaan besar atau perusahaan startup, tidak ada salahnya tetap belajar dan mempersiapkan diri untuk mengikuti psikotes. (Baca juga: https://werkudarains.org/blog/2020/09/02/persiapkan-diri-kamu-untuk-hadapi-psikotes-cara-mudah-mempersiapkan-diri-sebelum-mengikuti-psikotes/) Jika kamu diminta untuk mengikuti psikotes, setidaknya kamu sudah lebih siap menghadapinya dan jika kamu tidak diminta untuk mengikuti psikotes, berarti kamu harus fokus pada tahapan wawancara. Dengan begitu, kamu tidak akan mengalami hambatan di setiap tesnya. Selamat mencoba Sahabat Werkudara!

Sumber:

1.   Vonika Maulita. 14 Agustus 2016. Tips Mengerjakan Tes Psikotes dan Kiat-Kiatnya!. Diakses pada tanggal 24 September 2020, dari https://www.futuready.com/artikel/lifestyle-leisure/tips-mengerjakan-tes-psikotes-dan-kiat-kiatnya/

2.   Meily Rohmatun. 20 Februari 2017. Pelajari Trik Hadapi 10 Bentuk Psikotes Ini, Seleksi Kerja Apapun Bisa Kamu Taklukan dengan Mudah. Diakses pada tanggal 24 September 2020, dari https://www.hipwee.com/sukses/pelajari-trik-hadapi-10-bentuk-psikotes-ini-seleksi-kerja-apapun-bisa-kamu-taklukan-dengan-mudah/

3.   Jeanne Mejia. 31 Maret 2020. Samakah Cara Perekrutan Karyawan Baru Di Startup dan Korporasi Besar?. Diakses pada tanggal 24 September 2020, dari https://www.kompasiana.com/auditio26/5e82fcbe097f3667db09f6c2/samakah-cara-pandang-perekrutan-karyawan-startup-dan-korporasi-besar?page=all#

 

4.   Okezone. 4 Juni 2017. Bekerja di Startup vs Korporasi, Mana Lebih Menguntungkan?. Diakses pada tanggal 24 September 2020, dari https://economy.okezone.com/read/2017/06/02/320/1706092/bekerja-di-startup-vs-korporasi-mana-lebih-menguntungkan