Penulis : Sesilia Sophia Kadita

 

Kebiasaan membanding-bandingkan diri tanpa disadari sebenarnya sudah tertanam sejak kecil. Banyak orang tua kerap membandingkan anaknya, bahkan di dalam lingkup keluarga sekalipun. Seiring berjalannya waktu, rasa iri dan tidak puas diri membuat kebiasaan buruk ini terus berkembang.

Kehadiran media sosial terlebih semakin meningkatkan intensi membandingkan diri dengan orang lain, karena dengan mudah mendapat informasi, entah tentang orang yang dikenal dan tidak. Keberadaan internet dan media sosial semakin membuka tirai di antara negara dan menunjukkan bagaimana “standar” suatu hal; kecantikan, kesuksesan, kekayaan, kepintaran, dan lainnya. Banyak orang kemudian bertanya kepada dirinya sendiri,”Apakah aku sudah setara atau lebih baik dari standar tersebut?”.

Penyebab Sering Membandingkan Diri

(Sumber: lifestyle.okezone.com)

Alasan paling sederhana mengapa kita sering membandingkan diri dengan orang lain adalah untuk mencari kepastian bahwa diri kita lebih baik dibandingkan orang lain. Kita menginginkan pengakuan atas kemampuan diri sendiri. Selain itu, perasaan yang tidak pernah cukup atas yang dimiliki dan dicapai juga membuat banyak orang membandingkan dirinya dengan orang lain.

Dalam psikologi, kondisi ini disebut dengan social comparison atau perbandingan sosial. Perbandingan sosial adalah kecenderungan seseorang untuk merasakan hal baik dan buruk dalam dirinya berdasarkan perbandingan diri sendiri dengan orang lain. Namun sayangnya, bukan mendapatkan alasan untuk memperbaiki diri, hal ini justru membuat banyak orang merasa tertekan dan frustasi. Banyak orang terjebak karena terus membandingkan diri tanpa mau berusaha dan introspeksi.

Wanita Lebih Sering Membandingkan Diri

(Sumber: seruni.id)

Media sosial sering dijadikan ajang membandingkan diri, terutama oleh wanita muda. Sebuah penelitian dari University of Sydney, Macquarie University, dan UNSW Austria menemukan bahwa wanita menilai bahwa wanita lain terlihat lebih baik darinya di media sosial.

Lebih lanjut, kebiasaan membandingkan diri ini berdampak buruk seperti membuat mood menurun, tidak bahagia, dan berniat melakukan pola diet yang tidak sehat. Foto-foto yang beredar di media sosial padahal tidak bisa diterima mentah-mentah. Foto yang terlihat “sempurna” di media sosial bisa jadi sudah diseleksi terlebih dahulu dan melalui tahap editing.

Cara Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain

(Sumber: koinworks.com)

1.   Temukan Role Model

Jika sedang bekerja atau menekuni suatu bidang, tetapkan role model atau panutan yang menjadi sumber inspirasi. Perlu diingat, panutan ini untuk diikuti, bukan kompetitor yang harus dilampaui. Akan lebih membantu memiliki role model  orang terkenal daripada teman sebaya di kehidupan kita. Jika ada teman yang memiliki pencapaian lebih besar namun kita sudah memiliki role model, perasaan terasingi akan lebih kecil.

2.   Miliki Kelompok Sosial yang Mendukung

Persaingan yang tidak sehat dapat dihindari bila kita memiliki kelompok sosial yang saling mendukung. Kelompok seperti ini dapat berupa grup pertemanan dengan tujuan sama, misalnya komunitas hobi seperti olahraga, baca, musik, dan lainnya.

3.   Miliki Rekan Seperjuangan

Jika tidak memiliki kelompok sosial yang mendukung, maka dapat menemukan rekan (individu) seperjuangan yang bisa saling membantu. Upaya saling mendukung dapat dilakukan dengan saling mengevaluasi, merayakan pencapaian yang diraih, serta memotivasi untuk tetap setia dengan rencana awal.

4.   Gratitude Journal

Ingat pencapaian apa yang kamu miliki sekecil apapun itu. Tulis segala hal yang perlu kamu syukuri (gratitude journal) seperti catatan keberhasilan dan ungkapan terima kasih. Mengingat pencapaian diri sendiri membantu untuk fokus pada kehidupan diri sendiri daripada memikirkan kehidupan orang lain.

5.   Menghindari Kompetitor Negatif

Jika memiliki rekan yang terus mencela atau membandingkan pencapaianmu dengan dirinya, sebaiknya dihindari. Namun terkadang pihak yang suka membandingkan ini adalah orang-orang terdekat yang tidak mungkin dijauhi, misalnya keluarga sendiri. Bila kasusnya seperti itu, maka yang bisa dilakukan adalah belajar meregulasi emosi dan berkompetisi secara sehat. Jangan terpengaruh dengan bandingan negatif pencapaian orang lain dengan kekurangan diri sendiri.

Terkadang kita memang membutuhkan seseorang yang menginspirasi dan memacu untuk melakukan segalanya dengan lebih baik. Namun, apabila melihat kehidupan orang lain justru memunculkan akibat negatif seperti rasa iri, frustasi, atau merasa tidak cukup baik, membandingkan diri harus segera dihentikan. Dengan begitu kamu akan lebih mensyukuri apa yang dimiliki dan dicapai saat ini.

 

 

 

 

Sumber:

Hadi, Abdul. 26 Mei 2020. 5 Cara Agar Tak Selalu Bandingkan Diri Sendiri dengan Orang Lain. https://tirto.id/5-cara-agar-tak-selalu-bandingkan-diri-sendiri-dengan-orang-lain-fCSM (Diakses pada 28 Oktober 2020 pukul 0.50)

Sartika, Resa Eka. 8 Juli 2019. Kenapa Kita Suka Membandingkan Diri dengan Orang Lain di Media Sosial? https://sains.kompas.com/read/2019/07/08/130300523/kenapa-kita-suka-membandingkan-diri-dengan-orang-lain-di-media-sosial-?page=all (Diakses pada 27 Oktober 2020 pukul 22.51)

Scott, Elizabeth. 6 Mei 2019. The Stress of Social Comparison. https://www.verywellmind.com/the-stress-of-social-comparison-4154076 (Diakses pada 28 Oktober 2020 pukul 0.52)

Sukmasari, Radian Nyi. 19 Desember 2016. Studi: Wanita Lebih Minder saat Bandingkan Diri dengan Orang Lain di Sosmed. https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-3375048/studi-wanita-lebih-minder-saat-bandingkan-diri-dengan-orang-lain-di-sosmed (Diakses pada 27 Oktober 2020 pukul 23.55)